"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Ocean & Engines By Niki
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.
Kalo ada boleh langsung komen di samping.
Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.
Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.
Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.
Kamu & Kenangan
Hingga pintu lift tertutup Gio masih terus menatap ke arah Hanna dengan senyum tipis, perempuan yang masih berdiri kaku itu juga balas menatap kearah dirinya dengan tatapan kosong. Lalu ketika pintu lift benar-benar tertutup Gio menghela nafas lelah.
Andai ia punya sedikit keberanian ia pasti akan memeluk Hanna, tapi sayangnya dirinya tak ckup berani sekedar untuk menarik Hanna dalam pelukannya ketika melihat Hanna menangis tersedu-sedu.
Melihat perempuan menangis tersedu-sedu seperti tadi tentu saja bukan hal pertama. Memiliki dua saudara perempuan yang selalu ada di setiap pertumbuhan hidupnya dan ia yang ada di pertumbuhan hidup mereka. Contoh kecilnya saja Indah, remaja itu sangat sering kali menangis tersedu-sedu seakan dunia amat jahat kepadanya entah itu karena mainan kesayangan yang di cuci ibu karena sudah terlalu kotor, atau karena perahu kertas yang di buat basah dan tenggelam sebab terlalu lama di dalam air.
Tapi walupun begitu Gio tak pernah sekalipun melihat perempuan di keluarganya menangis seperti Hanna, atau mungkin mereka yang tak pernah menunjukkan kepada dirinya. Tangisan dengan tatapan kosong itu hingga membuat mata Hanna bengkak tentu saja membuat dirinya juga ikutan sedih.
Walaupun mungkin di satu sisi ia sedikit berbahagia karena perempuan yang ia sukai sudah putus. Tapi, jikalau melihat Hanna menangis seperti itu tentu saja ia sedikit tidak rela. Hingga bunyi notifikasi pada ponsel miliknya membuat Gio baru menyadari bahwa ia akan ada pertemuan dengan para Pratama yang lainya.
Hanna menutup pintu apartemen miliknya. Membuka gorden agar cahaya matahari pagi bisa masuk dalam unit nya yang baru di tinggal sehari.
Miris.
Sungguh. Hidupnya benar-benar miris. Sambil menatap satu koper yang tergeletak tak jauh dari kitchen sed ia tertawa kecil, tawa yang perlahan berubah jadi air mata. Dengan air mata yang perlahan turun Hanna menarik kopernya di sisi kasur. Membuka seluruh isinya satu persatu.
Siapa sangka angan-angannya yang akan menghabiskan banyak waktu di kota lain bersama sang kekasih sambil mendekatkan lagi hubungan mereka harus berakhir dengan kata putus. Hingga sebuah bingkisan yang terlihat pada pandangan matanya yang berembun membuat Hanna dengan kasar membuka kertas koran yang dibungkus nya dengan rapi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.