Terasa Aneh

535 14 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.






Bad By Wave To Earth






Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.







Kamu & Kenangan.




Gio pikir itu hanya akal-akalan perempuan itu saja tak mau pulang dengannya. Tapi setelah dirinya mengintip kemana kepergian perempuan itu yang memilih untuk pulang dengan Go-Jek dari pada pulang dengannya Gio masih belum bisa berpikir logis.





"Mikir apa sih lo hah sampai nguntit Hanna kesini?" ujar Gio kepada dirinya tak habis pikir, sebelum membawa mobil itu untuk menuju ketempat yang saat ini ingin di tuju.

"Ngapain lo kesini?" ujaran bernada sindiran dilayangkan oleh lelaki itu begitu melihat sosok yang tak diundang tampak duduk di kursi kebesaran miliknya.

"Berisik," desis Gio. Lelaki yang sudah melepas jas dan juga kemeja yang sudah di gulung itu tampak tak ingin di ganggu sama sekali.

"Lo yang nggak jelas ngapain ke rumah sakit dan keruangan gue," ucap lelaki dengan snelli putih itu.

Saat ini memang Gio sedang berada di rumah sakit swasta yang jaraknya bisa dikatakan lumayan jauh dari tempat dimana dirinya mengikuti Hanna tadi. Tapi mau bagaimana lagi hanya tempat ini dan juga ruangan ini yang bisa membuat dirinya tenang.

"Lagi mikir apa sih lo?" tanya Andrew salah satu sepupu yang paling sering dikunjungi oleh Gio jika lelaki itu banyak pikiran.

Gio menghela nafas kesal. "Keistimewaan manusia sama makhluk yang lain kan karena mereka bisa mikir."

"Bukan itu maksud gue," ungkap Andrew. Lelaki itu memilih untuk melempar minuman dingin yang baru saja dibawa saat dirinya ke kantin tadi.

"Thanks," ucap Gio.

"Hmm," dehem Andrew, "jadi kenapa lagi lo kali ini?"

Gio memilih untuk meneguk minuman yang diberikan oleh sang sepupu dengan cara tidak baik dari pada meneladani ucapan yang tidak akan mau dibicarakan.

"Mau main tenis nggak lo?" tanya Gio keluar dari topik pembicaraan.

"Ngapa jadi bahas tenis," heran lelaki itu.

"Mau main nggak," ulang lelaki itu lagi.

"Boleh deh," setuju Andrew. Sambil mengambil satu berkas yang ada di meja sebelum membukanya untuk di baca.

Setelah mendapatkan teman bermain tenis Gio memilih untuk tetap diam di kursi Andrew. Dirinya bahkan tidak berniat untuk bangun dari kursi kebesaran itu. Lagi pula orang-orang tidak akan marah hanya karena dirinya duduk terlalu lama di ruangan dokter.

Hanna tiba di salah satu toko yang menjual piringan hitam. Inilah alasan kenapa dirinya menolak untuk diantar oleh Gio, karena letak toko ini lumayan jauh dari kantor. Lagi pula dirinya dan lelaki itu tidak perlu terlalu dekat karena mereka saling mengenal di masa lalu.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang