Kepingan

85 1 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.






Bentangan Jarak Asmara By Man Osman & Traffic Jam





Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.









Kamu & Kenangan









Seperti kata Hendra barusan. Memang tidak ada kenangan yang indah yang menyertai mereka dengan motor. Tapi walupun begitu Hanna tetap bersyukur karena dengan motor butut peninggalan kakek Hendra dirinya merasakan banyak hal dengan lelaki yang saat ini tengah mengusap dengan pelan tangan nya.

Keluarga Hendra bukan keluarga yang miskin kalau kalian sempat berpikir seperti itu ketika mendengar cerita Hendra tentang motor butut yang mengeluarkan asap sepanjang perjalanan mereka menuju kampus. Orang tua Hendra bisa dikatakan sebagai orang yang berada. Kenapa begitu karena ayah dari Hendra sendiri bekerja di salah satu lembaga pemerintah, sedangkan ibu dari Hendra mempunyai usaha kontrakan yang sepertinya sangat cukup untuk menghidupi dua anaknya dan juga ia dan suami. Karena seperti yang kita tahu bahwa penghasilan dari kontrakan itu cukup memuaskan, oleh karena itu kontrakan bisa dikatakan sebagai investasi.

Lalu kenapa juga Hendra mengenakan sepeda motor peninggalan kakeknya dari pada mobil yang memang ada di rumahnya atau motor yang lebih layak. Jawaban Hendra sederhananya saat dirinya bertanya. Karena ini peninggalan kakeknya. Orang yang sudah mengurusnya sewaktu kecil di saat orang tua nya sedang mengusahakan agar ekonomi mereka baik-baik saja.



"Tapi walaupun begitu aku tetap punya cerita indah loh sama motor kamu itu," kata Hanna.

"Oh ya? Apa memangnya?"

"Pas sidang kamu."

"Pas sidang aku?"

Hanna mengangguk semangat. "Sepeda motor itu amat penting di saat sidang kamu tau nggak?"

Lelaki itu tampak mengingat sebelum pada akhirnya tawa itu keluar yang tentu saja di susul oleh tawa Hanna. "Lagi pula siapa yang masih semangat sidang sih. Setelah jadwal sidang nggak menentu. Mana waktunya pas aku udah dapat kerja."

"Iya sih. Tapi walaupun begitu kan motor itu punya peran penting karena bisa ngantar kamu tepat waktu di ruang sidang."

"Iya sih. Tapi setelah aku ingat-ingat lagi. Kayaknya itu pertama kalinya motor itu nggak ngambek. Bayangin dia nggak mogok loh sama sekali. Sedangkan hari biasa dia aja masih ngambek sampai aku bingung sendiri."

Hanna mengangguk setuju masih dengan tawa yang belum usai. "Itu tandanya kakek dukung aku sama tante supaya kamu bisa mau sidang."

"Tau nggak sayang?" Pancing Hendra.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang