Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Saat-saat itu By Last Child
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.
Kalo ada boleh langsung komen di samping.
Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.
Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.
Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.
Kamu & Kenangan
"Hanna," sahut Gio sedanya.
"Statusnya Aa?" Lelaki yang meminta maaf kepada dirinya kembali bertanya.
"Tanya aja sendiri. Gue nggak mau jawab takut salah," ujar Gio usil sambil menatap dirinya dengan senyum kecil.
"Jadi Mbak Hanna ini siapanya Aa Gio?" Lelaki rambut gondrong itu kembali bertanya tanpa malu-malu.
'Kak Gio gila,' batin Hanna kesal.
"Rekan kantor," sahut Hanna apa-adanya.
"Eh cuman rekan kantor aja nih?" Seakan tak puas lelaki yang berdiri di balik kasir itu kembali bertanya.
Kalau bisa menghilang dari tempat dan keadaan seperti ini dirinya pasti akan memilih menghilang.
Menatap kedua lelaki di depannya nya dengan wajah menahan malu dan Gio dengan wajah memelas berharap lelaki itu mau menolong dirinya di tengah suasana seperti ini.
"Udah-udah nggak usah di tanya lagi. Kasihan Hanna udah kelihatan putus asa sama kalian karena banyak tanya," lerai Gio dengan tawa yang baru terlepas usai melihat Hanna bingung akan jawaban yang akan terjawab.
"Yahhh. Gagal deh sesi interograsi nya." Lelaki di balik kasir itu tampak berpura-pura kecewa karena Gio mungkin yang menghalangi mereka karena tak dapat jawaban.
"Jadi gimana? Tempat yang gue pesan ada kan?" tanya Gio mulai mengalihkan topik.
Lelaki gondrong itu menggangguk dua kali. "Apa sih yang nggak ada sama Pak Arsitek yang udah punya jasa di cafe ini."
"Bisa aja lo."
"Eh perlu diantarkan tidak Aa?" Lelaki di balik kasir itu pun menawarkan kepada Gio.
"Makasih banyak. Tapi nggak usah," ujar Gio, "duluan ya." Tepat setelah berpamitan Gio kembali membawa dirinya untuk masuk lebih dalam ke dalam cafe.
Hingga ketika langkah kakinya dan Gio mulai menaiki tangga, Gio yang berjalan satu langkah di belakang nya sebab tak bisa berjalan beriringan karena tangga yang kecil mulai berujar kepadanya dengan bisikan halus.
"Gue tahu lo lagi bingung sekarang sama situasi sekarang, untuk saat ini tolong disimpan dulu bingung nya entar akan gue jelaskan semuanya."
"Silahkan duduk." Gio menarik kursi yang berada di seberang nya, sebelum Gio juga ikut menarik kursi miliknya sendiri dan duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu & Kenangan
Romansa"Gue suka sama lo Kak." Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan. Sudah cukup sepuluh...
