"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Mesin Waktu By Mawar Dejogh
Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.
Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.
Kalo ada boleh langsung komen di samping.
Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.
Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.
Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.
Kamu & Kenangan
Hanna baru bisa bernafas lega ketika ia mulai memasuki lift yang bergerak naik untuk menuju unit apartemen nya di lantai tujuh.
Ketika lift berhenti, pintu terbuka dan ia tiba di lantai yang di tuju. Hanna mulai menyusuri lorong-lorong sepi yang menemani langkah serta dirinya sendiri. Jarum jam baru menunjukan pukul sembilan lebih beberapa menit, tapi entah kenapa rasa sepi sangat terasa saat ini.
Lalu ketika Hanna membuka pintu unit apartemennya, sebuah bingkai foto yang terlihat di nakas tepat di samping tempat tidurnya membuat ia dengan langkah gontai meraih figura tersebut.
Sebuah foto yang diambilnya sekitar lima tahun lalu. Foto yang diambil saat dirinya wisuda. Yang mana ada Hendra yang berada tepat di sampingnya.
Sosok laki-laki yang datang dengan buket bunga lily putih dan jas warna biru muda itu tersenyum lebar dengan mereka yang saling pandang dengan senyum penuh cinta.
Sebuah figura yang ia bawa bahkan sampai dirinya ke Jakarta. Karena selain bunga lily yang Hendra bawa sebagai hadiah kelulusan, di tengah genggaman tangan mereka lelaki itu diam-diam memasangkan sebuah gelang padanya. Gelang yang di beli Hendra dengan hasil menabung dari beberapa kali gaji yang ia dapat.
Ah, mengingat tentang gelang yang sudah ia pulangkan karena dirinya terlalu takut untuk menyimpan sebuah benda yang seharusnya tak berada pada dirinya membuat tanpa sadar bulir air mata itu perlahan turun kembali. Hingga setetes air mata itu di susul dengan bulir-bulir lain yang ikut turun. Lalu isakan itu perlahan terdengar di tengah suasana apartemen yang temaram.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanna terduduk dengan lemas. Bersandar pada tempat tidur dengan lantai dingin sebagai alasnya. Menekuk kedua lututnya, membenamkan kepalanya pada lipatan kaki. Hingga rambutnya yang panjang menjuntai menutupi kepalanya serta kondisi wajahnya yang tak baik-baik saja.