"Gue suka sama lo Kak."
Ungkapan cinta yang di ungkapkan oleh remaja labil begitu duduk di kelas satu SMA tentu bukanlah perkataan yang bisa dianggap serius. Karena cinta monyet kerap hadir mengisi masa remaja yang menyenangkan.
Sudah cukup sepuluh...
Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.
Tanpa Tergesa By Juicy Luicy
Kamu & Kenangan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti janji mereka tadi sore setelah pulang kantor dan nongkrong sebentar di cafe yang letaknya tak terlalu jauh dari kantor sambil menunggu Fifi yang ngaret seperti perkataan perempuan itu tadi, disinilah kelima wanita itu berada.
Berjalan masuk mengelilingi salah satu store baju yang kerap kali jadi incaran mereka karena baju yang di keluarkan selain bagus juga lucu.
Dua alasan bagi perempuan jikalau membeli barang. Kalau tidak bagus ya lucu. Terserah pas sudah sampai di rumah bermanfaat atau tidak.
Setelah mengelilingi mall dua jam lebih, mereka pada akhirnya memutuskan untuk menyantap makan malam yang sudah telat. Sambil membawa tentengan di tangan masing-masing mereka kompak masuk pada restaurant shabu-shabu.
Jika dalam tugas memanggang adalah tugas Irna dan Hanna, tugas Kia dan Bica adalah membuat kuah rebusan yang enak di campur dengan beberapa bahan yang sudah tersedia. Jangan tanya apa tugas Fifi, karena perempuan pecinta salah satu artis korea selatan itu tidak bisa memanggang daging dengan kriteria yang mereka kompak mau. Kalau untuk urusan rebusan ya karena selera lidah Fifi tidak cocok dengan selera lidah mereka. Jika menurut Fifi semua makanan rasanya saja maka berbeda lagi menurut mereka berempat. Jadi pada saat memutuskan untuk makan shaburi Fifi hanya jadi penonton serta fotografer jika mereka ingin mengabadikan momen. Kalau tidak ya perempuan itu hanya menonton saja.
"Anjirrr enak banget," lontar Kia penuh semangat begitu menerima daging yang sudah matang setengah itu dari Bica.
"Gue kan emang paling tau selera lo," balas Bica sebelum menyuapkan sepotong daging dan sesendok nasi ke dalam mulut.
"Jadi?" Hanna menganggkat gelasnya ke udara yang sudah berisi teh lemon sebelum di susul oleh keempat perempuan lainya.
"Semoga di bulan depan kita makin semangat kerjanya biar bisa tetap makan enak seperti ini!" ungkap Bica sebelum mereka melakukan cheers.
"Wihhh," sorak-sorai penuh kegembiraan itu mengisi meja ke-lima gadis itu.
Hingga setelah mereka menghabiskan semua pesanan yang ia pesan. Bica dan Fifi yang izin pamit ke toilet dan Irna yang di jemput sang pacar karena agenda mereka sudah kelar. Di meja dengan bekas piring berserakan itu hanya ada Hanna dan Kia yang sejak tadi menatap curiga kearahnya.
"Hanna," panggil Kia.
"Hmm."
"Lo beneran buka hati sama pak Aksara seperti saran gue?"
"Hah? Maksud lo?"
Kia bangun dari posisi duduknya yang berada di depan Hanna untuk pindah di samping sang teman. "Udah beberapa hari ini gue lihat lo sibuk banget sama handphone. Bahkan saat kita di kantin dan lo nggak sengaja atau entah sengaja kalian saling tatapan kalian pasti saling lempar senyum. Gue bukan anak kecil yang bisa lo kibulin jadi ayo jujur," desak Kia.