Akhir

144 2 0
                                        

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.






Mean It By LANY & Lauv






Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.






Nggak mungkin alasan LDR buat kamu nggak yakin.

Rintik Sedu





Kamu & Kenangan




Hampir satu jam dari kejadian tadi. Bahkan saat ini dirinya dan lelaki yang di sebut pacar itu berjalan di salah satu food court yang berada di pusat kota dengan tangan yang saling menggenggam.





"Kamu kenapa sayang?" tanya Hendra sambil mengusap punggung tangan sang kekasih dengan ibu jempolnya.

Hanna tersenyum kecil sambil menggeleng berapa kali. "Aku nggak papa kok," balas nya, "eh ada muffin tuh ayok kita beli. Kamu kan lagi kepengen banget muffin," ujar Hanna tiba-tiba sambil menarik tangan Hendra untuk mengikutinya.




Hendra yang sebenarnya masih ingin bertanya terpaksa harus di urungkan begitu melihat raut antusias sang pacar. Bukanya tak tahu Hendra sebenarnya sangat menyadari bahwa suasana hati Hanna yang sedang tidak bagus. Entah sejak kapan suasana hati perempuan itu tak bagus, tapi yang jelas dirinya baru menyadari tepat setelah mereka keluar dari kos-kosan. Entah hal apa yang sedang bercokol dalam otak perempuan itu hingga mood nya tiba-tiba saja tidak memburuk. Beberapa hari yang lalu dirinya memang sempat mengobrol dengan sang kekasih bahwa dirinya sedang kepengen muffin tapi tak sempat mencari sebab dirinya sudah terlalu lelah setelah sepulang kerja.



Usai membeli muffin dan menemukan tempat duduk di tengah festival yang semakin malam semakin ramai di kunjungi pengunjung sebab mungkin akan ada festival musik, hal ini tentu saja dibuktikan alat sound system dan juga orang-orang yang sudah mulai menggambil posisi di depan. Hanna duduk sendiri di kursi usai Hendra pamit pergi ke toilet. Di tengah suara orang-orang yang riuh saling mengobrol dan bau makanan yang menggugah selera dirinya malah terjebak di dalam pikiran.



Seberapa kuat pun dirinya ingin melupakan hal tadi yang terjadi, peristiwa tadi justru tak pergi. Berputar terus-menerus di kepalanya bagaikan kaset rusak yang membuat dadanya semakin sesak dalam satu waktu.



Hingga kedatangan Hendra tanpa raut bersalah itu sambil membawa dua botol air minum membuat Hanna mulai memusatkan fokus pada sang pacar.




"Maaf telat soalnya tadi toilet lumayan antri," perjelas Hendra tanpa Hanna meminta.

"Iya." Hanna menjawab seadanya sebelum kembali sibuk dengan pikirannya.

"Sayang. Aku ada salah?" Hendra mulai bertanya setelah kejadian hening di antara mereka terjadi bermenit-menit. Entah kenapa muffin yang sudah sangat di dambakan tak terasa nikmat lagi. Padahal teksturnya lembap, manis dan gurih dalam waktu bersama serta tekstur kerenyahan dari tepung jagung benar-benar paduan yang sangat cocok. Tapi sayangnya hal yang sudah sangat ia dambakan mendadak hilang.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang