Beri Jarak

124 3 0
                                        

Mat lebaran mam embek semuanya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 mohon maaf lahir dan batin

Hai ketemu lagi sama author di part yang baru tapi di cerita yang sama.







Lany By Cause You Have To






Kalian udah vote dan komen belum, kalo belum vote dan komen dulu yuk.

Kalian semua ada kata kata atau quotes gak buat author taruh di awal bab, tema nya terserah mau tentang cita cita, usaha, keluarga, sahabat, suka, duka, bahagia, cinta, penghianatan dan lain lain.

Kalo ada boleh langsung komen di samping.

Kalo kata kata atau quotes nya cocok sama isi bab entar author taruh deh di awal bab sekalian nama akun kalian di bawah nya.

Tapi ingat kata kata atau quotes nya murni dari hasil pemikiran kalian sendiri bukan jiplakan karya orang lain.

Yang belum vote sama komen vote dan komen dulu yuk biar kita mulai aja cerita nya, deh dari pada makin ngelantur author ketik.









Kamu & Kenangan






Mengungkapkan perasaan yang sudah lama terpendam tenyata cukup melegakan juga, jadi kalau di pikir-pikir lagi tidak ada yang salah dengan ungkapan suka dari perempuan itu, bertahun-tahun yang lalu ya walaupun setelahnya perempuan itu berlari sih.

Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil pria berumur dua puluh delapan tahun itu pun memilih untuk membaringkan tubuhnya pada kasur setelah melempar dengan asal handuk kecil itu ke sembarang arah. Sebelum pada menit selanjutnya Gio tiba-tiba saja tersenyum lebar ketika mengingat kembali atas aksi Hanna di menit terakhir pertemuan mereka hari ini.

Hingga ketukan pada pintu kamarnya membuat lelaki itu pun menyahut ucapan sang Ibu.




"Gio, Ibu boleh masuk?" izin Ibu dari luar kamar.

"Masuk aja Bu, kamar nya nggak di kunci kok."


Setelah mendengar jawaban dari putranya. Wanita paruh baya yang kali ini terlihat mengunakan dress rumahan berwarna biru muda itu mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kasur sang putra.

"Nggak di pakai lagi emangnya nih handuk udah di lempar ke sini," lontar Ibu sambil menggambil handuk sang putra yang tergeletak di atas lantai.

"Pakai kok Bu," cengir Gio.

Ibu mengeleng beberapa kali ketika mendengar ucapan sang putra. Tidak suami tidak anak sepertinya kebiasaan mereka tetap sama. "Kalau masih di pakai seharusnya di gantung Gio, bukanya di lempar gini."

"Maaf Ibu," kata Gio sambil bangun dari posisi rebahan nya. Melangkahkan kakinya menuju ke arah Ibu berada, sebelum mengandeng tangan wanita baik itu untuk di bawa duduk pada kasurnya.

"Maaf ya Bu, Gio sering lupa untuk jemur handuk lagi setelah pakai," ungkap Gio jujur sambil mengusap-usap tangan Ibu dengan hangat dan pelan. Berharap bahwa wanita di hadapannya ini punya umur yang panjang dan kesehatan agar selalu punya tenaga untuk menegurnya serta untuk melihat semua tahapan hidup yang di laluinya.

"Ibu nggak mau percaya lagi perkataan kamu karena pasti di lakuin lagi. Nggak beda jauh sama Papi kamu." Wanita paruh baya itu menarik tangan nya dari sang putra.

Gio tampak mengangguk beberapa kali sambil tersenyum puas. "Nah pantesan aku berarti punya kebiasaan naruh handuk sembarangan tenyata dapat keturunan dari Papi doh."

"Kamu emang anak Papi banget tahu. Padahal yang khawatir kalau kamu belum pulang dan makan itu Ibu, tapi kok sifat kamu plek-ketiplek Papi benget," heran wanita itu.

Kamu & Kenangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang