Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tau istilah darah lebih kental dari pada air atau dalam bahasa ingris " blood is thicker the water,istilah ini di gunakan untuk mengatakan bahwa ikatan keluarga lebih penting.
****
Tapi sepetinya Erikc tidak setuju dengan istilah itu karena justru banyak luka yang tercipta dari keluarga,ya memang keluarga itu lebih penting karena kita tercipta dari DNA yang sama,namun Erikc menemukan versi asli dari istilah darah lebih kental dari pada air.
The blood of the covenant is thickerthan the water of the womb : artinya ikatan dan kesetian dari sahabat perjuangan lebih kuat dari pada keluarga.
****
Erikc menatap layar ponselnya, membaca ulang pesan dari Henry yang memintanya hadir di pertandingan kualifikasi untuk menentukan siapa yang layak masuk Timnas U-17. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya; ia tahu betapa pentingnya kehadirannya bagi Henry, namun ego dan rasa cemburu sering kali menghalanginya untuk mendukung saudara kembarnya itu.
Rentetan pesan dari Henry hanya ditatap Erikc tanpa minat untuk membalas. Sudah biasa bagi Erikc untuk mengabaikan pesan-pesan dari saudara kembarnya itu. Jika pun ia membalas, hanya untuk hal-hal yang benar-benar penting. Mungkin memang Erikc adalah salah satu tipe saudara yang cukup menyebalkan.
Dari samping, Azka, yang duduk di sebelah Erikc, melirik layar ponselnya dengan rasa penasaran. "Kenapa nggak dibalas sih, Rikc?"
"Udah, dalam hati," jawab Erikc santai sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Azka mendengus, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Menurut gue, lo harus datang. Ini kan momen paling penting buat adik lo."
Erikc menghela napas panjang. Dalam hati, ia tahu Azka benar. Ia harus datang, setidaknya untuk menunjukkan dukungan. Namun, rasa gengsinya selalu menjadi tembok besar yang sulit ia lewati.
Saat Erikc masih berpikir, Hani tiba-tiba datang dengan membawa tumpukan buku paketnya. "Kenapa nih? Ada kegalauan apalagi?" tanyanya, meletakkan buku-buku itu di meja Erikc.
"Hari ini kan Henry tanding," jelas Azka sambil menunjuk Erikc dengan dagunya. "Gue suruh dia buat hadir."
"Ya hadir dong, Rikc," sahut Hani cepat. "Kepala sekolah aja dateng, masa lo, kakak dari embrio yang sama, nggak dateng? Gak etis banget lo."
Erikc hanya mengangkat bahu. "Iya, iya, gue dateng. Tapi gue mau ngajak Lula."
Azka dan Hani saling pandang dengan ekspresi heran. "Lula? Siapa lagi?" tanya Hani sambil mengerutkan dahi.
"Pacar gue yang baru," jawab Erikc santai, membuat kedua temannya makin bingung.
"Intan juga pacar baru lo, kan?" Azka menimpali, menatap Erikc dengan wajah penuh tanda tanya.