Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setiap akhir pekan, biasanya ayah menghabiskan waktu bermain golf bersama teman-temannya. Namun, kali ini berbeda. Ayah memutuskan untuk bertemu dengan sahabat lamanya dari SMA. sahabatnya baru saja pindah ke kota ini bersama istrinya dan ingin sekali bertemu dengannya setelah sekian lama.
Setibanya di kafe tempat mereka berjanji bertemu, ayah terlihat celingukan, mencari sosok sahabatnya. Jujur saja, ayah sebenarnya sudah lupa seperti apa rupa sahabatnya itu. Bagaimana tidak? Mereka sudah puluhan tahun tidak bertemu.
"Adyava!" terdengar panggilan dari seseorang. Ayah menoleh ke arah suara itu, menuju salah satu meja di pinggir jendela. Di sana, seorang pria berperawakan besar berdiri dengan senyum lebar. Ia mengenakan setelan jas mahal yang sangat rapi dan melambai ke arah ayah.
"Surya!" Ayah setengah berlari menghampiri sahabat lamanya itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Surya berdiri, menyambut ayah dengan pelukan erat. "Wah, kau terlihat sangat berbeda," komentar Ayah sambil mengamati penampilan temannya. Ayah merasa sangat pangling. Bagaimana tidak? Dulu Surya adalah anak yang kurus kering dengan rambut kribo yang sangat populer di zamannya.
Surya tertawa lebar. "Kau juga! Tapi kau terlihat jauh lebih tua sekarang," godanya sambil tertawa terbahak-bahak. Ayah hanya memutar mata, menatapnya dengan kesal namun penuh keakraban.
"Ayo, ayo, duduk," ujar Surya sambil menunjuk ke bangku yang sudah disediakan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan menyerahkan buku menu. Ayah dan Surya mulai melihat-lihat daftar makanan dan minuman yang tersedia. Setelah beberapa saat, ayah menutup buku menunya dan memesan Americano serta beberapa camilan manis. Sementara itu, Surya lebih memilih latte dan camilan berbahan dasar kentang.
Ketika pesanan mereka tiba, ayah menghirup Americano-nya perlahan sambil mendengarkan cerita Surya. Ternyata, kini Surya bekerja sebagai pakar psikolog remaja. Ayah hampir saja tertawa mendengar hal itu. Ia teringat bagaimana nakalnya Surya saat SMA—hobi tawuran, membuat ulah di sekolah, dan menjadi salah satu siswa yang paling sering dihukum guru.
"Surya, kau benar-benar berubah, ya," komentar ayah, masih merasa tidak percaya.
Surya tersenyum kecil sambil mengaduk latte-nya. "Yah, hidup ini penuh kejutan, kan? Dulu aku memang nakal, tapi siapa sangka sekarang aku malah jadi pakar psikolog. Bahkan, aku juga mengajar sebagai dosen di universitas ternama di kota ini."
Ayah mengangguk, masih berusaha mencerna perubahan besar itu. "Memang lucu hidup ini. Anak SMA angkatan 1994 yang dulu terkenal sebagai biang kerok sekarang malah menjadi seorang dosen dan pakar psikolog."
Keduanya tertawa bersama, mengenang masa-masa remaja mereka yang penuh cerita konyol dan kenakalan. Pertemuan itu menjadi momen nostalgia yang berharga, mengingatkan mereka bahwa waktu memang mampu mengubah segalanya.
"Tapi bisa jadi ini karena sumpah almarhum Bapak Wicaksono, guru paling killer waktu itu," ujar Surya tiba-tiba sambil tersenyum mengingat. "Dia pernah berkata, 'Kelak, di masa depan, kau akan selalu mengurusi orang-orang seperti dirimu.' Dan sumpahnya ternyata benar. Sekarang, setiap hari aku harus memberikan konsultasi kepada orang tua yang anaknya persis seperti aku dulu. Nakal, bandel, dan bikin sakit kepala."