63 perpisahan sekolah

1.8K 119 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Sudah hampir enam bulan Erikc koma, dan seluruh keluarga masih berusaha mempertahankan harapan, sekecil apa pun kemungkinan itu.

Minggu lalu, jari Erikc sempat bergerak—seolah memberi kode kepada keluarganya untuk tetap menunggu. Meski dokter mengatakan itu hanya refleks dan bukan tanda bahwa Erikc akan sadar, semua orang tetap meyakini bahwa itu adalah harapan yang tidak boleh diabaikan.

Hari ini, Henry datang ke rumah sakit, membawa berbagai macam komik kesukaan Erikc—termasuk One Piece, yang sampai sekarang belum t

amat. Ibunya mengeluh karena tidak bisa memahami cara membaca komik tersebut. Menurutnya, membaca dari kanan ke kiri terasa membingungkan, terutama bagi orang yang tidak terbiasa dengan manga.

Henry mulai membaca, lembar demi lembar, dengan suara pelan atau hanya dalam hati. Entah siapa yang pertama kali memberi teori bahwa orang dalam keadaan koma harus dibacakan buku, tapi Henry tetap melakukannya.

Matanya tiba-tiba membulat saat melihat salah satu ilustrasi di dalam komik. Salah satu karakter perempuan digambar hanya mengenakan bikini.

"Waduh, ini mah udah kayak nonton porno. Gede banget!" gumam Henry, lalu melirik Erikc. Seketika, jari Erikc kembali bergerak, seolah merespons ucapannya.

Henry tertawa kecil. "Lo pernah punya pacar dengan dada sebesar ini, nggak?" tanyanya lagi, dan jari Erikc kembali bergerak.

"Wah, luar biasa! Aku mau belajar, suhu. Cepat bangkitlah, suhu! Muridmu menunggu!" ujar Henry dengan semangat, masih menatap Erikc yang terbaring tak sadarkan diri.

Plak!

Belakang kepala Henry ditepuk oleh Rangga yang baru saja datang untuk visit.

"Lagi apa kamu, huh?" tanya Rangga sambil melipat tangan di dada.

"Ya baca One Piece, manhwa favorit Erikc," jawab Henry santai, lalu memperlihatkan gambar karakter perempuan berbikini ke arah Rangga.

Rangga buru-buru menutup matanya. Wajahnya memerah, jelas terlihat malu. "Astaghfirullah, Henry! Lo baca apaan, jir!" serunya.

Henry tertawa. "Sok banget lo. Suka nonton porno juga."

"Enak aja! Gue nggak gitu, ya!" Rangga membela diri dengan wajah kesal.

Mengabaikan Henry, Rangga mulai memeriksa kondisi Erikc. Semua tanda vital stabil, tidak ada perubahan yang mencolok.

"Bang, tadi aku ngajak ngobrol Erikc, terus jarinya gerak! Kayaknya dia mau bangun deh," ujar Henry penuh semangat.

Rangga menatap adiknya yang terlihat begitu berharap. Meski setiap kemungkinan ada—Rangga tahu bahwa secara medis, Erikc belum menunjukkan respons yang berarti. Namun, melihat harapan di mata Henry, ia tak ingin langsung mematahkan semangatnya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang