Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Setelah lama bermain, Azka dan dua temannya akhirnya pamit pulang dari rumah Yuga. Awalnya, mereka bertiga ingin membantu membersihkan sisa makanan dan minuman, tapi Yuga mencegahnya. "Biar gue aja yang beresin," katanya santai.
Yuga mengawasi kepergian mereka,
Seragam SMA masih melekat di tubuh masing-masing. Sebenarnya, ia juga ingin melanjutkan sekolah, tapi keadaan membuatnya harus menunda—entah sampai kapan.
Dengan napas pelan, Yuga mulai membersihkan ruang tengah yang berantakan. Ia mengambil kantong kresek besar untuk mengumpulkan sampah, lalu matanya menangkap kemasan jus jeruk milik Erikc.
Tangannya mengambil kemasan itu. Tidak ada yang istimewa, hanya kotak jus biasa. Tapi kenapa saudara kembarnya, Henry, begitu menyukai minuman ini? Apa spesialnya jus jeruk?
Dengan iseng, Yuga mengguncang kemasan itu. Masih ada sedikit tersisa. Ia menempelkan sedotan ke bibirnya dan meneguknya perlahan.
Rasanya asam-manis, cukup menyegarkan.
"Pantesan Erikc suka," gumamnya pelan.
****
"Dari mana lo?!"
Henry menahan tangan Erikc tepat saat kakaknya hendak menaiki tangga menuju lantai atas, tempat kamarnya berada.
"Habis main," jawab Erikc singkat, berusaha melepaskan cengkeraman Henry.
"Pulang sekolah itu balik ke rumah, bukan malah kelayapan!"
"Suka-suka gue lah! Kok lo yang ngatur?" Erikc mulai jengah dengan sikap Henry yang semakin menjadi-jadi.
Henry kembali mencengkeram lengannya, kali ini lebih erat.
"Lepasin! Sakit, Henry!"
"Besok habis pulang sekolah, langsung pulang. Awas aja kalau enggak!" Henry mengancam, suaranya penuh tekanan.
"Apaan sih nih bocah, nggak jelas!" umpat Erikc sebelum akhirnya naik ke kamarnya tanpa peduli lagi dengan adiknya.
Begitu masuk, Erikc melempar tas selempangnya ke atas ranjang. Hari ini benar-benar melelahkan.
Tanpa repot-repot mengganti pakaian, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Pikirannya masih melayang ke pertemuannya dengan teman Azka tadi—Yuga.
Entah kenapa, wajah Yuga terasa tidak asing. Seolah-olah Erikc pernah bertemu dengannya sebelumnya... tapi di mana?
Lagi-lagi, Henry menerima pesan yang mengganggu. Kali ini, si peneror mengirimkan foto bekas kemasan jus jeruk. Yang membuat Henry semakin gelisah, kemasan itu adalah merek yang selalu Erikc minum dan selalu ada di rumah.
Saat makan malam, Erikc memperhatikan Henry yang lebih pendiam dari biasanya. Biasanya, adiknya akan makan dengan lahap, apalagi kalau ada makanan favoritnya. Tapi kali ini, Henry hanya menatap piringnya.