Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Erikc terus memikirkan cara agar bisa lebih dekat dengan saudara kembarnya, Henry. Saat ini, ia sedang nongkrong bersama Azka di taman kota sepulang sekolah. Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang, sementara Azka asyik menikmati es krim cokelatnya. Tidak ada Hani bersama mereka kali ini, karena Hani sedang sibuk dengan les bimbingan belajar, mempersiapkan diri untuk masuk universitas.
"Ka..." panggil Erikc pelan, sambil melirik Azka yang terlihat santai menikmati es krimnya.
"Apa?" jawab Azka malas, tanpa menoleh ke arah Erikc.
"Gue makin penasaran sama Henry," gumam Erikc, raut wajahnya serius. "Dia itu aneh banget."
Azka akhirnya menoleh dan menatap Erikc dengan alis terangkat. "Dulu-dulu lu bilang ayah lu yang aneh, sekarang Henry yang lu bilang aneh. Atau jangan-jangan... keluarga lu aneh semua?" Azka terkekeh kecil sambil menjilat es krimnya.
"Serius, Ka, gue gak bercanda kali ini," balas Erikc dengan nada kesal.
Azka menyandarkan punggungnya ke bangku taman sambil mengangkat bahu. " Ya udah, kenapa lagi sih, Rikc? Kayaknya keluarga lu ada aja ceritanya tiap hari."
Erikc terdiam sejenak, menimbang-nimbang bagaimana cara menjelaskan pikirannya. Akhirnya, ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Gini, Ka, Henry itu... dia punya OCD."
Azka langsung memasang ekspresi bingung. "Penyakit apaan tuh? Kayak istilah dietnya Dedy Corbuzier, ya?" tanyanya polos.
"Dih, bukan itu, Ka!" Erikc membalas dengan gemas, merasa kesal dengan kepolosan Azka.
"Obsessive Compulsive Disorder," jelas Erikc. "Penyakit yang bikin dia terlalu perfeksionis sama semua hal. Contohnya, kamar dia tuh selalu rapi banget, semuanya harus simetris, gak boleh ada yang melenceng sedikit pun. Kalau ada yang berubah dikit aja, dia bisa marah atau stres."
Azka mengangguk pelan, mulai memahami penjelasan Erikc. "Oh, gitu... pantesan dia kelihatan bersih dan rapih, beda banget sama lu." Ujar Azka sambil terkekeh.
"Dia juga kayak punya obsesi yang aneh gitu..." Erikc melanjutkan dengan raut wajah serius.
"Henry terobsesi sama gue," jawab Erikc tanpa ragu.
Azka terdiam sesaat sebelum meledak dalam tawa. "Obsesi sama lu? Kalau dia obsesi sama Lisa Blackpink baru gue percaya!" gurau Azka sambil memegangi perutnya, menahan tawa.
"Serius, Ka. Gue gak bohong, sumpah! Dia sendiri yang bilang kalau dia terobsesi sama gue," balas Erikc, terdengar kesal karena tidak dianggap serius.
Azka menghapus air mata akibat tawanya yang terlalu keras. Ia mencoba menenangkan diri dan bertanya lagi, walaupun masih terdengar skeptis. "Oke, terus, kalau itu beneran... lu mau gimana?"