Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Henry membuka amplop itu dan tersenyum saat melihat isinya. Namun, ia tidak begitu antusias. Jumlah uang di dalamnya terasa kecil baginya-ia pernah menerima lebih banyak dari ini. Menurut Henry, ini hanya sekadar uang receh.
Tanpa rasa khawatir akan hilang atau dicuri, ia meletakkan amplop itu begitu saja. Kemudian, ia mengambil jurnalnya dan mulai menulis tentang perasaannya hari ini.
Henry menulis tentang kesehariannya di asrama. Tidak ada yang mengintimidasinya—semua orang menghormatinya.
Meski begitu, Henry bukan tipe orang yang mudah bergaul. Jika tidak ada yang mendekatinya lebih dulu, ia jarang memulai interaksi. Karena sikapnya yang tertutup, banyak orang mengira bahwa Henry sombong. Padahal, sebenarnya ia hanya menyesuaikan diri dengan perlakuan orang lain. Jika seseorang bersikap baik padanya, Henry pun akan bersikap baik.
Bukan hanya tentang kesehariannya di asrama, Henry juga menulis tentang Erikc—tentang karakteristik dan perilaku kakaknya terhadapnya belakangan ini.
Meski Henry sudah membakar camilan Erikc, ia berpikir Erikc akan memulai interaksi atau setidaknya marah. Namun, yang dilakukan Erikc hanyalah menatapnya tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sebenarnya, Henry ingin meminta maaf, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia sadar bahwa kata-katanya di rumah sakit pasti menyakitkan. Erikc memang ahli dalam mengabaikan sesuatu jika itu tidak sesuai dengan perasaannya. Alih-alih berdebat, ia lebih memilih diam.
Akhir-akhir ini, Henry sering menerima pesan-pesan ambigu dari pengirim tak dikenal. Awalnya, ia mengabaikannya. Namun, saat si peneror mulai menyebut-nyebut keluarganya, ia mulai merasa terusik.
Setelah mengisi satu halaman penuh di jurnalnya, Henry menutup buku itu. Pikirannya tetap gelisah.
Brakkk!
Pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Pelakunya tak lain adalah Erikc, saudara kembarnya.
***
Erikc merasa jika uang tunai ini terus disimpan begitu saja, lama-kelamaan bisa rusak. Ia mulai berpikir mencari solusi, hingga akhirnya sebuah ide terlintas-sesuatu yang sejak kemarin tak terpikirkan olehnya.
Kenapa tidak menyimpannya di bank saja?
Namun, ada satu masalah: Erikc tidak tahu cara membuka rekening. Memang, di bank pasti ada satpam atau petugas yang bisa membantu, tapi ia tak mau dianggap kampungan di sana.
Meminta bantuan Bunda? Ah, malu. Masa sudah 17 tahun masih belum paham cara jadi nasabah? Gengsi. Bertanya pada Ayah? Erikc ragu Ayah punya waktu untuk hal seperti ini.
Akhirnya, meski hubungannya dengan Henry masih dingin, Erikc menyingkirkan egonya dan memutuskan untuk menemui saudara kembarnya.
Tanpa ragu, ia mendorong pintu kamar Henry-yang ternyata tidak dikunci-dengan kasar.