20.Wajah Lebam Henry.

1.6K 83 2
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Sebagai konsekuensi atas pelanggaran yang terjadi, seluruh pemain Timnas harus menerima hukuman berat. Mereka diperintahkan untuk berlari ke atas bukit sambil membawa beban di punggung. Coach Lee tidak peduli meski hujan deras turun-aturan adalah aturan, dan pelanggaran harus dibayar dengan kerja keras.

Namun, hukuman untuk Henry, Yuga, Dipta, dan Awan lebih berat dari yang lain. Selain ikut berlari ke bukit, mereka diberi tugas tambahan untuk membersihkan lapangan setiap hari.

Henry merasa sedikit kecewa karena dirinya juga dihukum, meskipun ia sudah melaporkan kejadian tersebut. Namun, Coach Lee menjelaskan bahwa Henry dihukum bukan karena kejujurannya, tetapi karena ia tidak segera melapor begitu mengetahui pelanggaran itu. "Keterlambatanmu bisa menciptakan dampak yang lebih besar untuk tim," ujar Coach Lee tegas.

Henry menerima hukuman itu dengan lapang dada, bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya. Sementara itu, Yuga, Dipta, dan Awan menjalani hukuman dengan wajah penuh rasa kesal, terutama Yuga, yang diam-diam menyimpan dendam terhadap Henry.

Semua anggota Timnas berlari mendaki bukit yang curam dan licin. Hujan deras yang terus mengguyur membuat tanah semakin berlumpur, memaksa mereka untuk berhati-hati. Sedikit saja salah berpijak, mereka bisa tergelincir dan terluka.

Di tengah perjalanan, Joko hampir kehilangan keseimbangannya. Kakinya terpeleset di atas lumpur, membuat tubuhnya sedikit miring ke samping. Namun, Henry yang berlari di sampingnya dengan sigap menangkap tangan Joko sebelum ia benar-benar jatuh.

"Hati-hati, Jo! Jangan sampai jatuh," ucap Henry dengan nada serius, sembari memastikan Joko kembali berdiri tegak.

Joko menghela napas panjang, merasa jantungnya hampir copot. "Hampir aja gue, Hen. Kalau sampai jatuh, bisa cedera gue," katanya dengan nada panik.

Henry hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Pelan-pelan aja, yang penting kita sampai di atas." Mereka kemudian melanjutkan lari mereka, dengan Joko berusaha lebih fokus agar tidak terpeleset lagi. Sementara itu, hujan terus mengguyur, seakan menguji ketangguhan mental dan fisik para pemain Timnas.

Hukuman akhirnya selesai. Para pemain Timnas jatuh terduduk di lapangan dengan napas terengah-engah. Tubuh mereka basah kuyup, bukan hanya karena hujan, tetapi juga karena keringat yang bercampur dengan dinginnya udara pagi. Kelelahan terlihat jelas di wajah mereka, seolah tenaga mereka telah benar-benar terkuras habis.

Coach Lee berdiri tegak di tengah lapangan, sama basah kuyupnya dengan para pemain. Namun, tubuhnya tetap kokoh, tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Di sampingnya, penerjemahnya juga berdiri, menerjemahkan semua ucapan Coach Lee dengan suara yang lantang.

"Bagaimana? Capek?!" teriak Coach Lee dengan suara menggema, meski hujan deras berusaha menelan suaranya. Matanya menatap tajam setiap pemain, seolah menantang mereka untuk menjawab.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang