62. Hipnoterapy.

2.2K 123 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Setelah konsultasi dengan psikiater, Henry didiagnosis mengalami PTSD. Setelah OCD, kini ada penyakit baru lagi.

Rangga merangkul Henry yang berjalan gontai saat mereka keluar dari ruangan psikiater.

"Nambah lagi, Bang," ujar Henry dengan senyum miris.

Rangga terkekeh, berusaha menganggap semua ini bukanlah masalah besar.

"Bang, aku mau nemuin Erikc."

Rangga menatap Henry dengan ragu. Setelah kejadian minggu lalu, ia tidak berani memaksa Henry lagi. Tapi kali ini, Henry sendiri yang meminta.

"Kalau kamu belum siap, nggak apa-apa. Lain kali saja. Siapa tahu, lain kali itu Erikc sudah sadar," ujar Rangga, tak ingin memaksa Henry atau membuat kondisinya semakin buruk.

Henry terdiam, menatap Rangga beberapa saat, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia benar-benar siap bertemu dengan saudara kembarnya.

"Yakin?"

Henry mengangguk mantap.

"Oke, baiklah. Kalau kau merasa yakin, tapi jangan histeris, ya. Nanti orang-orang menganggap kamu gila."

Henry menarik napas dalam. "Aku memang sudah gila, Bang. Cuma males  keluyuran di jalan aja."

Rangga tertawa. "Yaudah, hayu!"

Di dalam ruangan rawat, Rangga dan Henry melihat ayah mereka duduk di bangku samping ranjang Erikc, melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan khusyuk. Entah mengapa, saat mendengar lantunan itu, Henry merasakan seolah-olah ayahnya sedang mengaji untuk jasad Erikc. Ia buru-buru mengusir pikiran tersebut. Tidak, ayah hanya sedang berdoa untuk kesembuhan Erikc. Itu satu-satunya harapan yang tersisa.

"Ayah," panggil Rangga pelan.

Ayah segera mengakhiri bacaannya, menoleh ke arah Rangga dan Henry yang berdiri tak jauh darinya.

"Henry," ucap ayah dengan nada lega, terlihat jelas kebahagiaan di wajahnya. Sudah lama ia tidak melihat putra bungsunya di sini. Ia menaruh Al-Qur'an di tempat semula.

Setelah lebih dari sebulan menolak mengunjungi saudara kembarnya, akhirnya Henry datang sendiri—tanpa bujukan, tanpa paksaan.

"Sini, Nak. Erikc pasti kangen sekali sama kamu," ujar ayah, seraya menarik pelan lengan Henry dan membawanya ke sisi ranjang Erikc. Ayah kemudian membungkukkan kepala, membisikkan sesuatu di telinga Erikc.

"Nak, adik kembarmu datang," ucapnya lirih.

Ayah meraih tangan Henry, meletakkannya di atas tangan Erikc. Seketika, Henry bisa merasakan betapa dinginnya tangan saudara kembarnya itu.

Henry tertegun. Hatinya terasa tercabik melihat kondisi Erikc. Meski beberapa selang sudah dilepas, hanya menyisakan selang NGT dan oksigen, tetap saja rasanya seperti siksaan yang belum berakhir bagi Erikc.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang