29 Manejer baru

1.2K 62 9
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Setelah menghabiskan dua batang rokok, Henry berdiri dari bangku taman. Tanpa banyak bicara, ia melepas jaketnya dan mengeluarkan jaket lain yang baru dari tasnya. Gerakannya tenang, seperti sudah terbiasa.

Erikc yang masih duduk di sana hanya bisa menatapnya dengan bingung. "Lu ngapain, Hen?" tanyanya dengan nada heran.

Henry tidak langsung menjawab. Ia mengambil botol parfum dari tasnya dan menyemprotkan parfum itu dengan cukup banyak ke tubuh dan jaket barunya. Aroma segar segera menguar, menggantikan bau asap rokok yang sempat menempel.

Erikc semakin kebingungan melihat tingkah kembarannya itu. "Serius, Hen. Lu ngapain? Aneh banget."

Henry hanya melirik Erikc sekilas dengan senyum tipis, lalu mengambil permen karet rasa mint dari kantongnya dan memasukkannya ke mulut. "Buat nyamarkan bau rokok. Kalau sampai bunda tahu, bisa panjang urusannya," jawabnya sambil mengunyah permen karet itu dengan santai.

Erikc mendesah pelan. "Lu bener-bener, ya. Gue nggak nyangka lu punya sisi kayak gini."

Henry hanya tertawa kecil. "Nggak semua hal tentang gue lu tahu, Rikc. Kadang gue juga butuh sedikit kebebasan," ucapnya, lalu merapikan jaket barunya.

Erikc memandang Henry dengan campuran rasa heran dan kagum. Malam ini, ia merasa seolah mengenal Henry dari sisi yang sama sekali berbeda, seperti membuka lembaran baru dari sebuah buku yang selama ini ia kira sudah selesai dibaca.

"Masih bau rokok nggak?" tanya Henry sambil menatap Erikc, yang masih tampak bingung mencerna semua kejadian barusan.

Erikc mengendus sedikit, lalu menjawab singkat, "Bau parfum sih sekarang."

Henry tersenyum puas. "Oh, oke. Ayo pulang. Bunda pasti khawatir kalau kita kelamaan."

Namun, saat Henry berbalik hendak berjalan ke motor, Erikc tiba-tiba memanggilnya. "Hen..."

Henry menoleh, senyumnya tetap lembut, seperti biasa. "Iya, kenapa, Erikc?"

Nada suara Henry yang lembut dan tenang membuat Erikc merinding tanpa alasan yang jelas. Ia menelan ludah, lalu memberanikan diri bicara. "Eumm... sorry ya. Gue suka masuk kamar lo tanpa izin."

Henry tertawa kecil, nada suaranya ringan tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik senyum itu. "Sebenernya gue nggak suka, sih. Tapi ya sudahlah," jawab Henry santai.

Erikc terdiam, merasa ada hal lain yang harus ia katakan. Dengan sedikit ragu, ia menambahkan, "Dan soal jurnal lo..."

Henry mengangkat alis, lalu menjawab enteng, "Iya, gue tahu. Gue terobsesi sama lo."

Jawaban Henry keluar begitu ringan, tapi ada sesuatu yang aneh dan menakutkan tersirat dalam senyuman manisnya. Erikc merasakan bulu kuduknya meremang, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang