Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Henry terus menerima email-email aneh yang tidak jelas asal-usulnya. Ia berusaha mengabaikannya, tapi entah kenapa, akhir-akhir ini perasaan gelisah terus menghantuinya. Ini bukan sekadar gangguan biasa—Henry yakin ada dendam pribadi di baliknya.
Dalam pertandingan liga terbaru, tim Henry berhasil meraih kemenangan. Popularitasnya pun semakin melonjak. Bahkan, jumlah pengikut di Instagramnya kini telah menembus satu juta.
Bukan hanya bersinar di dunia olahraga, Henry juga telah menjadi bintang iklan dan raja endorsement. Ia kini menjadi idola baru—sosok yang dielu-elukan banyak orang.
Namun, setelah sesi pemotretan hari itu, Henry kembali menerima pesan misterius yang mengganggunya. Kali ini, si peneror mengirimkan bubur sumsum ke lokasi pemotretan.
"Hen, bubur sumsumnya enak banget!" seru beberapa staf sambil menikmati makanan itu.
Henry menatap bubur sumsum itu dengan perasaan tak menentu. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkannya atau dari mana asalnya. Perlahan, ia mengusap tengkuknya, merasa gelisah. Apa maksud dari semua ini?
Henry segera menghubungi bundanya, bertanya apakah ia yang mengirim bubur sumsum itu. Namun, ibunya langsung membantah.
"Bunda tidak mengirim apa pun, Henry," jawabnya tegas.
Di sisi lain, Dian, sang manajer, ikut bertanya, "Hen, kamu tahu siapa pengirimnya?"
"Aku juga gak tahu, Bang. Bunda juga gak ngaku," kata Henry, menggelengkan kepalanya.
Dian melirik para staf yang tampak menikmati bubur sumsum itu. Ia mulai merasa waspada. "Harusnya jangan dimakan. Kita gak tahu dari mana bubur itu berasal. Bagaimana kalau ternyata beracun?"
Dian lalu mendekati penjaga keamanan gedung dan bertanya siapa yang mengirimkan bubur itu. Penjaga itu menjelaskan bahwa makanan itu diantar oleh seorang driver ojol yang mengklaim ada kiriman atas nama Henry Adyava. Karena tidak ada yang mencurigakan, dan si pengantar sudah dibayar lunas, penjaga pun menerimanya tanpa bertanya lebih lanjut.
Belum reda rasa gelisah Henry, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Tanpa ragu, Henry segera mengangkatnya.
"Lo siapa, sih? Huh! Sini lo kalau berani! Cara lo basi banget, tau gak?" Henry meluapkan amarahnya.
Namun suara di seberang hanya tertawa kecil sebelum berkata, "Bubur sumsum... bukannya itu makanan kesukaan kakak kembar lo, ya?"
Deg!
Jantung Henry berdegup kencang. Si peneror ini tahu tentang Erikc—bahkan tahu makanan favoritnya.
Henry mengepalkan tangannya. "Kalau lo memang gak suka sama gue, kita ketemuan yuk. Keluarga gue gak ada kaitannya dengan masalah ini, jadi jangan libatkan mereka!"