Henry dan teman-teman seperjuangannya memutuskan untuk mengadakan acara perpisahan sekaligus perayaan kemenangan. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe sebelum melanjutkan ke tempat karaoke. Acara ini diadakan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada Coach Lee, pelatih yang telah menjadi sosok inspiratif dan kebanggaan bagi mereka. Suasana penuh kebahagiaan dan kehangatan, mengenang perjuangan mereka bersama dan merayakan momen berharga yang tak terlupakan.
Namun, entah mengapa Erikc tiba-tiba ingin ikut. Henry menghela napas panjang sambil menatap kembarannya yang berdiri di depannya dengan ekspresi memohon.
"Ini acara khusus buat anggota timnas dan para staf aja. Lu gak diundang, mending pulang aja, deh," kata Henry, suaranya terdengar datar.
Erikc langsung cemberut, merasa kesal dengan ucapan Henry. "Kok lu gitu sih? Jahat banget."
"Bukan maksud gue jahat, Erikc. Cuma gue gak enak sama temen-temen gue," balas Henry sambil menggaruk tengkuknya, berusaha menjelaskan.
"Ya tinggal bilang aja kalau kembaran lu mau ikut. Gitu aja susah," Erikc membalas sambil melipat tangan di dada.
Henry menghela napas lebih dalam, mencoba menahan rasa frustasinya. "Yaudah, lu ikut, tapi jangan bikin gue malu, ya."
Mendengar itu, Erikc tersenyum puas. Dia menempelkan tangan di atas alis, memberi hormat seperti seorang prajurit. "Siap, Kapten!"
Henry hanya bisa menggeleng pelan, mencoba menahan senyum melihat tingkah kembarannya.
Dengan sangat terpaksa, Henry membawa Erikc ke tempat pesta diselenggarakan. Saat mereka tiba, suasana yang tadinya hangat mendadak hening. Semua oran
terlihat bingung melihat Henry datang, tapi bukan bersama manajernya. Beberapa pemain timnas bahkan mulai bertanya-tanya, apakah pemuda yang berada di belakang Henry itu manajer baru nya?
"Hai, malam," sapa Henry dengan canggung, merasa semua mata tertuju padanya.
Henry kemudian melirik Erikc yang berdiri sedikit kikuk di belakangnya. "Ini kembaran gue, namanya Erikc," katanya, memperkenalkan sang adik.
Joko, yang sudah lebih dulu mengenal Erikc, hanya tersenyum kecil dari tempatnya berdiri, menikmati situasi yang terasa lucu.
Coach Lee menatap Erikc dengan ekspresi sedikit terkejut. "Oh, ternyata kau punya kembaran, ya," ucapnya.
Namun, raut wajahnya berubah penasaran. "Tapi kenapa kalian kelihatan sangat berbeda?" tanyanya lagi, mencoba memahami.
Henry menghela napas kecil, lalu menjawab seadanya, "Kami gak identik, Coach."
Coach Lee mengangguk-angguk, seperti menemukan jawaban atas kebingungannya. "Memang benar, kembar tidak selalu harus sama," gumamnya. Tapi ia tak bisa memungkiri, perbedaan antara Erikc dan Henry terasa begitu kentara—seakan mereka bukan saudara kandung.
Erikc duduk sedikit menjauh dari kerumunan. Ia hanya memperhatikan teman-teman Henry yang bernyanyi sembarangan. Suara mereka benar-benar tidak karuan, tapi mereka tampak sangat percaya diri. Kuping Erikc sampai terasa panas mendengarnya, tapi ia tetap diam, mencoba menahan tawa.
Setelah puas bergiliran bernyanyi, para pemain timnas mulai menyuruh Coach Lee untuk ikut tampil. Coach Lee tampak malu-malu, menggoyangkan telapak tangannya seolah menolak. "Saya tidak bisa bernyanyi," katanya berulang kali. Namun, Dipta, salah satu pemain, memaksa Coach Lee berdiri dan menyerahkan mikrofon kepadanya.
"Ayo, Coach, nyanyi lagu BTS!" teriak salah satu pemain, diikuti sorakan teman-temannya yang terus menggoda Coach Lee.
Coach Lee tersenyum kaku, lalu berkata, "Saya tidak hapal lagu BTS, tapi saya akan menyanyikan lagu Korea. Ini lagu yang sering saya dengarkan waktu muda."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins
Storie d'AmoreSebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
