51. Bertemu kembali.

1.4K 79 10
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Pagi ini mendung, padahal masih bulan Agustus. Sepertinya musim hujan datang lebih cepat tahun ini. Erikc tiduran di sofa sambil menonton TV. Dia tidak pergi ke sekolah karena kondisinya belum sepenuhnya pulih.

Henry menghampirinya dengan seragam sekolah yang sudah rapi.

"Heh, tolol," panggil Henry. Suaranya lembut, tapi menusuk sanubari.

"Apaan sih, pagi-pagi udah ngumpat," gerutu Erikc tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Gue mau ngomong sama lu."

Tanpa basa-basi, Henry menarik paksa lengan Erikc hingga dia terduduk, lalu menyeretnya ke kamar Rangga. Pintu langsung dikunci. Di dalam, Rangga sudah duduk di kursi, tatapannya tajam. Jelas, mereka tidak ingin Bunda tahu soal pembicaraan ini.

"Ada apa, sih?" tanya Erikc bingung, merasa canggung ditatap oleh abang dan adik kembarnya sekaligus.

"Mana gelang itu?" Henry langsung ke intinya.

Erikc mengerutkan dahi. "Gelang apaan?"

"Gak usah sok goblok, deh!" Henry mendorong bahu Erikc, membuatnya sedikit mundur.

"Henry, jangan kasar," gertak Rangga.

"Gelang dari Yuga," jawab Henry tegas.

Erikc terdiam sejenak.

"Mana! malah bengong..." Henry mendesak.

Tanpa berkata-kata, Erikc menyelipkan tangannya ke saku celana trainingnya, lalu mengeluarkan gelang yang ornamennya sudah pecah—dan kamera pengawas yang sengaja sudah dia rusak.

"Astaga, Erikc... Kok lo gak bilang sih?" Henry benar-benar geram.

"Aku mau bilang, tapi tiba-tiba Mama Yuga meninggal, jadi gue gak sempat buat kasih tahu."

Rangga menghela napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut.

"Kamu tau gak? Orang yang selama ini ngirim pesan-pesan ancaman itu Yuga. Jadi gue minta lo jauhi dia."

Erikc terdiam, mengulum bibirnya yang terasa kering. Dia tidak menyangka kalau Yuga adalah dalang dari teror itu.

"Kamu tau rumahnya di mana?" tanya Henry.

"Mau ngapain, Hen? Bahaya!" Rangga tidak setuju. Dia takut Yuga akan menyakiti Henry.

"Yuga juga mau pindah ke Kalimantan," kata Erikc.

Henry mendengus. "Pokoknya gue mau ketemu sama dia. Mau gue gampar itu orang!"

Tanpa menunggu jawaban, Henry langsung berjalan keluar dari kamar Rangga. Namun, saat pintu terbuka, dia mendapati Bunda berdiri di depan pintu.

"Eh, Bunda... Lagi apa?" tanya Henry dengan nada lebih lembut, sambil memasang senyum manis.

"Abang ada di dalam?" tanya Bunda.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang