67. Rindu Azka

1.9K 79 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






Erikc berdiri di depan rumah sakit, menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Dengan bantuan tongkat, ia menopang tubuhnya. Pemulihannya berlangsung cepat—lebih cepat dari yang diperkirakan. Sekarang, meskipun masih menggunakan tongkat, ia sudah bisa berjalan sendiri.

Sebuah mobil sport berhenti di depannya. Kaca jendela perlahan turun, menampilkan seorang pemuda dengan gaya eksentrik. Henry. Dia bukan berubah—lebih tepatnya, dia melepas topengnya. Ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya, meskipun menurut ayah mereka, Henry jauh lebih sulit dikendalikan dibanding Erikc.

Beberapa waktu lalu, ayah mereka hampir terkena serangan jantung saat mengetahui Henry menindik telinganya. Awalnya, Henry bahkan tidak berani pulang dan lebih memilih menginap di apartemen Rangga. Namun, ketika akhirnya kembali ke rumah, ayah hampir kehabisan napas melihat penampilannya yang lebih berantakan daripada Erikc.

Ayah hampir menampar Henry. Ia memang membebaskan anak-anaknya untuk menjadi diri sendiri, tapi tidak sampai sebebas ini. Erikc, yang menyaksikan kelakuan adik kembarnya, hanya bisa menggelengkan kepala.

Tanpa banyak bicara, Erikc masuk ke dalam mobil dan meletakkan tongkatnya di jok belakang.

"Sesuai aplikasi, ya, Mas," ujarnya, menirukan gaya sopir taksi online.

"Siap!" jawab Henry dengan senyum lebarnya.

"Tindikanmu dilepas?" tanya Erikc, menyadari bekas lubang di telinga Henry.

"Hmm... Ayah ngamuk. Ngancam mau cabut sekolahku di Inggris. Gue sih gak mau ambil risiko. Jadi ya, nurut aja—asal bapak senang," jawab Henry santai.

Erikc tertawa terpingkal-pingkal. Sekarang, seluruh keluarga sudah tahu siapa Henry sebenarnya. Selama ini, anak bungsu yang dianggap manis, sopan, ceria, dan selalu tersenyum itu ternyata penuh kejutan.

"Gimana terapinya?"

"Progresnya bagus. Di rumah juga harus tetap latihan jalan tanpa tongkat."

"Widihhh, hebat lo! Terus, selanjutnya gimana? Mau lanjut kuliah ke Jogja ngejar Hani?"

Erikc terdiam sejenak. Senyumnya tampak miris. Kemarin, ia sempat melihat media sosial Hani. Dia terlihat begitu bahagia. Hani bukan tipe orang yang sering mengunggah kehidupan pribadinya, tapi sejak kuliah di Jogja, dia seperti burung yang akhirnya lepas dari sangkar.

Mungkin dulu, saat SMA, Erikc adalah dunia Hani karena mereka selalu bersama. Tapi setelah menjauh, Hani menemukan dunianya yang lebih luas.

"Mungkin aku akan ikut saran Ayah, kuliah di Amerika," ucap Erikc akhirnya.

"Wooo, what's up, man? American style!" goda Henry.

Erikc kembali tertawa. Henry membuka atap mobilnya, membiarkan angin kencang menerpa wajah mereka. Di tengah hembusan angin, Erikc kembali teringat masa lalunya. Hani, Azka...

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang