Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sore itu, setelah menjalani terapi, Erikc akhirnya bisa bernapas lebih baik. Sistem paru-parunya sudah semakin kuat, dan kini ia tidak lagi membutuhkan tambahan oksigen. Bahkan, selang NGT pun sudah dilepas.
Di sisi tempat tidurnya, Henry duduk sambil memegang satu cup puding rasa jeruk—cemilan sore yang disediakan oleh rumah sakit. Dengan sendok di tangannya, ia menyendokkan sedikit puding dan menyodorkannya ke mulut Erikc.
"Aaa..." Henry menirukan suara pesawat hendak lepas landas.
Erikc tersenyum tipis lalu menerima suapan pertamanya.
"Gimana? Enak?" tanya Henry.
"Enak," jawab Erikc singkat.
"Lagi, nih. Pesawat mau terbang... aaaa..."
"Hap!" Erikc langsung melahap puding itu dengan cepat. Dalam waktu singkat, satu cup puding jeruk itu habis.
"Masih ada lagi nggak?" tanyanya, masih belum puas.
"Jatah dari rumah sakit cuma satu, Paduka," jawab Henry, mengangkat bahu.
"Kurang..." rengek Erikc.
Henry menghela napas panjang. Selang NGT sudah dilepas, dan itu tandanya Erikc mulai rakus lagi.
"Iya, iya. Nanti aku telepon Bik Sum buat bikinin puding jeruk," ujarnya akhirnya.
Erikc mengangguk sambil tersenyum lembut. "Makasih, Henry, my twins."
Henry langsung menoyor kepala Erikc. "Gak usah sok manis gitu, geli gue dengernya."
Erikc tertawa, tetapi tiba-tiba ia terbatuk. "Uhuk, uhuk, uhuk—"
Henry segera mengusap punggungnya. "Aduh, santai dong."
Erikc mengangkat satu tangan, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.
"Mau minum?" tawar Henry.
"Bentar... agak sesak," ujar Erikc sambil mencoba mengatur napasnya.
"Mau pakai oksigen?"
Erikc menggeleng dan mulai mempraktikkan teknik pernapasan yang ia pelajari. "Nggak usah. Kalau pakai oksigen terus, nanti paru-paruku jadi manja."
Henry mengangguk, menunggu beberapa saat sebelum bertanya lagi. "Gimana? Udah baikan?"
"Udah. Nggak apa-apa."
Henry menghela napas lega.
Erikc selalu kagum pada Henry. Adiknya itu sangat rajin beribadah, bahkan setelah salat pun, ia akan duduk bersila dan berzikir cukup lama. Berbeda dengan Erikc, yang sering kali lalai dalam menjalankan kewajibannya.
Sore itu, Henry menatap Erikc yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit.
"Henry... kalau lagi kayak gini, boleh nggak sih aku salat?" tanya Erikc ragu.