19 intimidasi Yuga.

1.7K 74 5
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Impian adalah cahaya di tengah ke gelapan yang membuat kita terus maju, namun saat menggapai impian itu maka segala penghalang pun akan muncul hingga membuat kita ingin menyerah.

***

Sudah satu minggu Henry berada di asrama, namun semua orang menjauhinya. Mereka tampaknya terpengaruh oleh Yuga, seolah-olah kebencian itu memang menular. Yuga membenci Henry dengan sangat dalam, menyalahkannya atas kekalahan Indonesia karena gol bunuh diri.

Henry menyadari kesalahannya dan berusaha memaklumi perilaku Yuga. Ia berpikir, mungkin ini adalah cara Yuga melampiaskan kekecewaan yang tak terkatakan. Namun, semakin lama, Henry merasa ada sesuatu yang berbeda.

Yuga mulai tampak seperti parasit yang menjijikkan-terus mengoceh dan menyebarkan fitnah. Kebenciannya tak lagi terasa sebagai respons atas kesalahan Henry, melainkan seperti sebuah kecemburuan yang mendalam. Sepertinya, Yuga tidak hanya membenci kesalahan Henry, tetapi juga karena Henry lebih berbakat darinya.

Makan siang kali ini terasa lebih istimewa setelah latihan keras yang menguras tenaga. Para anggota Timnas diberi waktu istirahat untuk makan dan melaksanakan ibadah. Henry, yang sudah menunaikan salat Zuhur, segera bergegas menuju kantin asrama untuk menikmati makan siangnya. Ia ditemani oleh Joko, teman sekamarnya.

Sambil mengantri makanan, Henry dan Joko saling melempar candaan, mencoba mencairkan suasana lelah setelah sesi latihan yang cukup intens. Namun, tanpa mereka sadari, di belakang mereka berdiri Yuga, Dipta ,bersama beberapa anggota Timnas lainnya.

Sepanjang sesi latihan tadi, Yuga terus mendapat teguran keras dari Coach Lee. Kesalahan demi kesalahan yang ia lakukan membuat pelatih kehilangan kesabaran. Ancaman pun terlontar: jika kinerjanya terus menurun, Yuga tidak akan dipercaya lagi untuk memegang ban kapten. Kata-kata itu menghantui Yuga, membuat suasana makan siang kali ini terasa berbeda-penuh tekanan yang tak terucapkan.

Melihat Henry yang terlihat sumringah membuat Yuga semakin gerah. Amarah yang terpendam sejak latihan tadi seolah mendidih, mencari jalan keluar. Tanpa pikir panjang, Yuga memotong antrean dengan kasar, mendorong sedikit bahu Henry, dan berdiri tepat di depannya serta Joko.

Henry tertegun sesaat, tetapi mencoba tetap tenang. Sementara itu, Joko menatap Yuga dengan tatapan tajam, seolah ingin protes. Namun, suasana kantin yang penuh membuat mereka memilih untuk menahan diri. Yuga, dengan sikapnya yang arogan, hanya memutar tubuhnya sedikit, melempar senyum sinis ke arah Henry, seakan ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di situ.

Ketegangan kecil itu menarik perhatian beberapa anggota Timnas lainnya, tetapi tak ada yang berani angkat suara. Di balik sikap tenangnya, Henry mulai menyadari bahwa masalah Yuga dengannya lebih dari sekadar gol bunuh diri-ini tentang sesuatu yang jauh lebih dalam.

"Yuga gak boleh, motong antrian kaya gitu." ucap Joko yang tidak terima antriannya di potong Yuga begitu saja.

"Sorry Jo, gue laper." kata Yuga sekenanya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang