6.Mimpi itu lagi

3.9K 192 11
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Biasa nya seorang ayah itu tidak bisa mengungkap rasa kasih sayang, mereka selalu menyembunyikan perasaan itu karena menurut sebagian laki laki memperlihatkan perasaan sayang nya akan membuat dia terlihat lemah.

Bagi Erikc, ayahnya adalah sosok yang luar biasa. Dia hangat, bertanggung jawab, dan menjadi panutan dalam keluarga. Ayah adalah pendengar yang hebat, teman diskusi yang cerdas, dan motivator terbaik. Namun, entah mengapa, hubungan Erikc dengan ayahnya selalu terasa dingin. Apa pun yang Erikc lakukan seolah selalu salah di mata ayah. Tidak ada ruang untuk pembelaan atau penjelasan; ayah sudah pasti menetapkan bahwa Erikc bersalah.

Salah satu momen yang membekas di ingatan Erikc terjadi saat dia berusia 9 tahun, masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, Erikc memang sengaja memecahkan guci kesayangan bunda.Tapi Erikc punya alasan kenapa dia memecahkan guci itu Namun Erikc tidak pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan, ayah langsung meledak dengan kemarahan yang menggelegar.

"Pokoknya hari ini kamu jangan main! Diam di kamar, renungkan kesalahanmu. Paham?!" Suara ayah menggema di seluruh rumah, dan Erikc yang masih kecil hanya bisa berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Guratan kemarahan di wajah ayah begitu jelas, membuat Erikc merasa kecil dan tak berdaya.

Pintu kamar ditutup rapat. Blam! Suara itu menandai awal Erikc menutup hatinya. Sejak saat itu, dia merasa percuma untuk berusaha lebih baik. Baginya, apa pun yang dia lakukan tidak akan pernah dilihat, apalagi dihargai. Ayah hanya akan memuji Henry, saudara kembarnya, yang selalu dianggap sebagai anak kebanggaan.

***

Azka melihat lihat wajah Erikc sedangkan Hani memeriksa semuanya.

"Kau benar benar baik baik saja..? Tanya Hani wajah nya terlihat sangat cemas.

"Iya aku baik baik saja."

"Kau pingsan dan itu membuatku takut." Tambah Azka.

Erikc hanya terkekeh kecil mendengar keluhan kedua temannya itu. Setelah memastikan Azka pulang sendiri, ia memutuskan untuk mengantar Hani pulang. Namun, sebelum itu, ia harus mengambil motornya yang masih terparkir di stadion.

"Serem banget ya stadion kalau sepi begini," ujar Hani sambil mengusap lengannya, merasa dingin sekaligus gelisah dengan suasana yang sunyi.

"Kamu takut, ya?" goda Erikc sambil melirik Hani dengan senyum jahil.

"Aku lebih takut sama lo, cowok mesum kaya lo!" balas Hani dengan nada galak, sambil mendorong Erikc agar menjauh darinya.

Erikc tertawa, tapi Hani justru melanjutkan omelannya, "Gelap banget, anjir! Kenapa nggak besok aja sih ngambil motornya?"

"Nggak bisa kalau besok," jawab Erikc santai. "Kalau besok, gue ke sekolah naik apa?"

Hani menghela napas pendek, sedikit kesal. "Naik angkot, naik bus, atau ojek online kek! Banyak pilihan, kali."

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang