Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah hampir satu bulan Erikc koma. Tidak ada yang tahu pasti kapan dia akan sadar.
Di ruang perawatan VIP, suara mesin terdengar begitu menyayat hati. Ruangan itu terasa hampa, hanya ada seorang pemuda yang terbaring dengan berbagai macam selang di tubuhnya. Dia tampak seperti pangeran tidur di ranjang rumah sakitnya. Seorang perawat datang, memeriksa kondisinya, lalu mencatat perkembangan terkini.
"Oh, Ibu sudah datang," ujar perawat itu dengan senyum ramah.
"Ibu mau memandikan anaknya, ya?"
Bunda tersenyum tipis. "Iya."
Perawat itu pamit keluar, sementara Bunda mengambil baskom stainless berukuran sedang dengan kain bersih di tangannya. Perlahan, ia mulai mengelap wajah Erikc dengan lembut, lalu membuka kancing piyama rumah sakitnya. Dengan hati-hati, Bunda mengusap tubuh Erikc—luka-luka di kulitnya memang sudah mengering, tetapi entah mengapa, ia belum juga sadar.
Setelah selesai, Bunda kembali mengancingkan piyama Erikc, lalu mengusap telapak tangannya dengan lembut.
"Uh, kukumu sudah panjang, Rikc. Bunda potongin, ya?" katanya sambil mengelus rambut Erikc yang mulai memanjang.
Bunda mengambil gunting kuku dan meletakkan tisu di bawahnya agar potongan kuku tidak berantakan. Dengan penuh ketelitian, ia mulai memotong kuku Erikc satu per satu.
"Nah, sudah pendek sekarang. Mau Bunda bacakan buku? Erikc suka komik, kan? Kemarin Ayah bawain seri komik baru untukmu."
Bunda mengambil salah satu komik. Selama ini, ia tidak pernah membaca komik, tetapi kali ini ia mencoba membacanya demi Erikc.
Namun, saat membuka halaman pertama, Bunda mulai kebingungan. Dari mana seharusnya ia membaca—dari kanan atau kiri?
Semakin ia mencoba memahami ceritanya, semakin ia merasa frustrasi. Alurnya terasa tidak nyambung, dan akhirnya, Bunda menyerah.
"Ah, sudahlah... Bunda tidak paham cara membaca komik."
"Sejak kecil, Bunda memang tidak suka komik. Maaf ya..."
Ia menatap Erikc sejenak sebelum tersenyum kecil. "Bagaimana kalau kita dengarkan musik saja?"
Bunda segera meraih ponselnya dan mulai mencari daftar lagu. Namun, jemarinya terhenti di layar. Ia terdiam.
Bunda tidak tahu lagu favorit Erikc.
Perlahan, hatinya terasa sesak. "Maaf ya, Nak... Bunda kurang memperhatikanmu. Bahkan musik kesukaanmu pun Bunda tidak tahu."
Air mata mulai menggenang di matanya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, menangis dalam diam.
Tiba-tiba, suara pintu bergeser membuatnya menoleh. Ia melihat Rangga masuk dengan pakaian hijaunya yang masih berlumuran sedikit keringat—sepertinya ia baru saja selesai melakukan operasi.