54 Menuju 18.

1.2K 71 0
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Yuga mengunjungi rumah Azka untuk berpamitan. Ibu Azka, yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, memasak masakan kesukaannya—gudeg nangka, telur balado, dan semur daging.

"Ayo dimakan, Den. Bibi masak banyak buat Aden," ujar Ibu Azka dengan senyum hangat.

Yuga menatap hidangan yang tersaji di meja. Aroma masakan rumahan yang begitu familiar menusuk hatinya. Jujur, ia merasa terharu.

Malam itu, seluruh keluarga Azka berkumpul. Mereka menikmati makan malam bersama, berbagi tawa dan cerita seperti biasa.

Saat Yuga tengah menyuap nasi, Ibu Azka menyendokkan lauk ke piringnya.

"Makan yang banyak, Den. Badannya sudah kurus banget. Padahal dulu badan Aden bagus, atletis," katanya dengan nada penuh perhatian.

Yuga mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, air mata hampir menetes. Ia menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan emosinya.

Malam ini, untuk terakhir kalinya, ia merasakan kehangatan sebuah keluarga.

Yuga tidak berbohong—gudeg buatan Ibu Azka memang benar-benar enak. Ia teringat masa kecilnya, saat ia menolak makan gudeg karena merasa aneh melihat buah dijadikan sayur. Namun, suatu hari, Ibu Azka menipunya dengan lembut. Ia menyajikan gudeg nangka tetapi mengatakan itu daging.

Tanpa curiga, Yuga memakannya. Dan sejak saat itu, ia jatuh cinta pada rasa gudeg nangka.

Setelah makan malam usai, Yuga mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan menyerahkannya kepada Ibu Azka.

"Apa ini, Den?" tanya Ibu Azka bingung.

"Hadiah untuk Bibi. Sekaligus gaji Bibi untuk beberapa bulan terakhir," jawab Yuga pelan.

Ibu Azka terkejut. "Ya ampun, Den. Bibi kan sudah nggak kerja sejak Bapak di penjara. Nggak usah, ini buat Aden aja. Aden pasti lebih butuh," tolaknya, merasa tidak enak hati. Baginya, merawat Yuga selama ini adalah ketulusan, bukan kewajiban.

"Tolong terima, Bi. Yuga mohon." Suara Yuga terdengar bergetar.

"Ini satu-satunya cara untuk menebus kesalahan Yuga di masa lalu. Dan... seribu maaf, Bi, untuk semuanya. Yuga tahu dulu Yuga nggak memperlakukan Bibi dengan baik," lanjutnya dengan mata sedikit memerah.

Ibu Azka terdiam, hatinya terenyuh.

"Tapi, Den..."

"Terima aja, Bi. Biar jalan Yuga ke depan lebih lapang," pinta Yuga lirih.

Dengan perasaan ragu, akhirnya Ibu Azka menerima amplop cokelat itu.

"Terima kasih, Den," ucapnya tulus.

Yuga hanya mengangguk pelan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi kata-kata terasa terlalu sempit untuk menampung perasaannya saat ini.

"Bi... boleh minta peluk?" tanya Yuga pelan, suaranya nyaris berbisik.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang