32 di pecat

1.4K 88 8
                                        

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, kondisi Erikc semakin membaik meskipun nasal kanula masih terpasang karena ia masih mengalami seak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, kondisi Erikc semakin membaik meskipun nasal kanula masih terpasang karena ia masih mengalami seak. Saat ini, Bunda sedang menyuapinya menu rumah sakit hari ini—bubur lembek.

"Enak?" tanya Bunda dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Enak," jawab Erikc, tersenyum tipis di bibir pucatnya.

Bubur yang dimakan Erikc sudah habis. Kini, ia hanya perlu meminum obat yang tadi diberikan oleh suster.

"Masih sesak, nggak?" tanya Bunda lagi.

Erikc menggelengkan kepalanya pelan.

"Bun, mau lepas selangnya. Titit Erikc sakit," keluh Erikc dengan suara lirih.

Semalam, Erikc dipasang selang kateter karena harus bed rest. Semua urusan, termasuk ke kamar mandi, dilakukan di tempat tidur.

"Sabar ya, Sayang. Dokter bilang Erikc belum boleh jalan-jalan dulu," jawab Bunda lembut, mencoba menenangkan.

"Bahkan cuma ke kamar mandi, Bun?" tanya Erikc, matanya memohon.

Bunda mengangguk pelan, meskipun raut wajahnya menunjukkan keraguan. "Iya, Sayang. Kita ikuti saran dokter dulu, ya."

Erikc meringis kesakitan. Ini namanya penyiksaan, pikirnya dalam hati.

Bunda, yang tak tega melihat Erikc terus mengeluh, segera memanggil perawat. Tak lama kemudian, Suster Rini datang menghampiri mereka.

"Ada apa?" tanya Suster Rini dengan suara lembut.

"Erikc mau lepas kateternya. Katanya nggak nyaman," jawab Bunda sambil menatap Erikc yang tampak gelisah.

"Itu wajar, Sayang. Nanti juga terbiasa," kata Suster Rini dengan nada menenangkan.

Namun Erikc menggeleng keras, suaranya penuh protes. "Gue nggak mau terbiasa! Gue mau pipis di kamar mandi!" serunya, hampir menangis.

"Iya, masalahnya Erikc harus tetap di tempat tidur. Kan sekarang sedang terapi oksigen. Kemarin oksigennya sampai ngedrop, loh. Kalau ke kamar mandi, oksigennya harus dilepas. Jadi, sabar ya," jelas Suster Rini lembut, mencoba membuat Erikc mengerti.

Namun, penjelasan itu tidak membantu. Erikc menangis histeris. Rasa tidak nyaman itu seperti menyiksa—bayangkan saja, selang sebesar itu dimasukkan ke uretra yang lubangnya kecil.

Bunda mengusap punggung Erikc perlahan, mencoba menenangkannya. "Sabar, Sayang," ucapnya lembut.

Erikc sudah seperti bayi sekarang. Bahkan, Bunda terpaksa memakaikan diapers untuknya. Dengan wajah merah karena malu, Erikc memalingkan muka, tak sanggup menatap siapa pun.

"Sudah selesai. Gimana? Lebih nyaman, kan?" tanya Bunda sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana.

Erikc tidak menjawab. Ia hanya diam, menatap ke arah lain. Dalam hatinya, ia merasa marah dan benci berada dalam kondisi seperti ini.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang