40 Ampau dari Opa

1.7K 92 3
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Keesokan paginya, setelah Opa beristirahat, Rangga dan Henry datang ke rumah. Bagaimanapun, mereka berdua harus menyapa Opa, meskipun hanya sebentar.

Jika Opa ada di rumah, rasanya selalu tidak nyaman. Seperti kemarin sore, lagi-lagi Opa berkomentar, kali ini tentang cemilan yang ada di meja.

"Itu gak baik buat kesehatan. Pantas kamu tidak tinggi-tinggi," katanya.

Pagi ini, Erikc tidak ingin mendengar komentar apa pun dari Opanya. Ia ingin berangkat sekolah—tapi ini hari Minggu.

Sementara itu, Opa sedang bersiap-siap untuk misa. Sebagai seorang umat Kristen yang taat, ia selalu menghadiri misa setiap Minggu. Kebetulan, di kompleks perumahan ini ada gereja, dan Bunda sudah menyiapkan segala keperluan Opa.

"Aku akan antar Papih ke gereja," ucap Bunda dengan senyum lembutnya—senyum yang tidak pernah berubah sejak kecil.

Bunda adalah anak kesayangan Opa, karena ia satu-satunya putri dalam keluarga. Semua kakak-kakaknya laki-laki. Sejak kecil, Bunda selalu diajak Opa ke gereja. Ia tumbuh dengan doa-doa di depan Tuhan Yesus, memohon agar tidak pernah terpisah dari ayahnya.

Namun, ketika beranjak dewasa dan mengenal laki-laki lain selain Opa, doanya ia ingkari. Untuk pertama kalinya, putri kecil itu membangkang. Dengan suara tegas, ia berkata bahwa dirinya sangat mencintai laki-laki itu. Ayah mana yang hatinya tidak sakit saat putri yang paling ia cintai lebih memilih laki-laki yang dianggapnya bajingan—seseorang yang telah menodai kesuciannya?

Sampai di depan gereja, Bunda melepaskan tangan Opa sambil tetap mengulas senyum.

"Masuk, Pi. Nadya tunggu di mobil."

Opa terenyuh. Tak pernah ia menyangka bahwa takdir akan membuat mereka berbeda. Dengan langkah berat, ia memasuki gereja sendirian. Rasanya begitu sulit melepaskan tangan putrinya—putri kecilnya yang dulu selalu ia bimbing, kini telah tumbuh besar dan memilih jalannya sendiri.

****

Erikc menuruni anak tangga satu per satu. Bau aroma herbal begitu menyengat dari dapur. Erikc tahu apa yang sedang dimasak oleh asisten rumah tangga mereka—sup ayam herbal. Ia benci makanan itu. Bagi Erikc, itu bukan sup, melainkan jamu. Rasanya cukup pahit dengan sedikit rasa getir.

"Bik, Bunda mana?" tanya Erikc.

"Ke gereja."

"Seriusan? Bik Bunda kan Islam, gak mungkin dia ke gereja."

"Ngantar Opa." Ayah yang menjawab, wajahnya terlihat lesu, kantong matanya sangat jelas. Erikc bisa merasakan, Ayahnya pasti tidak bisa tidur. Hidupnya tidak akan pernah tenang selama mertuanya masih satu atap dengannya.

Rangga keluar dari kamarnya. Ia sudah sangat rapi. Rambutnya yang kemarin masih di bawah telinga kini dipangkas pendek. Henry pun sama. Ia sudah mengenakan kemeja hijau tosca dan celana bahan yang rapi. Sedangkan Erikc? Ia masih mengenakan celana pendek dan hoodie yang tampak acak-acakan.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang