Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bun, Erikc mana?" tanya Ayah ketika tidak melihat Erikc di mana pun.
"Di kamar kayaknya," ujar Rangga,menjawab pertanyaan ayah. Ia berpikir bahwa Erikc mungkin masuk ke kamarnya karena merasa tidak enak badan.
Sementara itu, Hani yang masih berada di rumah Erikc bersiap untuk pamit karena hari sudah malam.
"Bun, Hani pamit pulang, ya."
"h iya, Han. Tapi kayaknya Erikc kecapekan," ujar Bunda, mengira Erikc ada di kamarnya.
"Gak apa-apa, Bun. Hani pulang sama Azka saja."
"Oh, yaudah. Hati-hati, ya."
Hani pun pergi bersama Azka.
Malam itu, semua orang tampak lelah. Henry sudah kembali ke kamarnya. Saat melewati kamar Erikc, ia langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa berpikir banyak. Begitu pula dengan Rangga, Ayah, dan Bunda.
Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa malam itu, Erikc menghilang.
***
Keesokan harinya, Yuga masih menatap tubuh Erikc yang tergeletak pingsan di lantai. Sambil melihat ponsel Erikc, ia menyadari bahwa tidak ada satu pun panggilan masuk atau pesan yang menanyakan keberadaannya. Yuga terkekeh pelan, merasa semua ini begitu lucu.
Perlahan, Erikc membuka matanya. Pandangannya masih buram, dan tubuhnya terasa kaku. Tempatnya berbaring terasa keras dan dingin, jauh dari nyaman. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi tidak bisa. Suara dengungan memenuhi telinganya, membuat kepalanya terasa sakit luar biasa.
"Lama banget kamu pingsannya. Padahal biusnya dosis paling rendah. Lemah banget, anjir."
Suara seseorang terdengar, tetapi Erikc belum bisa fokus. Penglihatannya masih kabur. Seiring waktu, semuanya mulai tampak lebih jelas, dan ia terkejut mendapati dirinya bukan di kamarnya. Bahkan, ini bukan rumahnya.
Ia berada di tempat asing—dan yang lebih mengejutkan, tangannya terikat di belakang tubuhnya.
"Di mana gue?" ucap Erikc dengan suara gemetar, ketakutan merayapi dirinya.
"Lo di tempat gue," jawab Yuga dengan senyum lebar.
Erikc refleks mundur, tubuhnya bergetar. Rasa takut semakin menghimpit dadanya.
"Yuga, lo ngapain sih? Lepasin gue...!" Erikc berteriak keras, berusaha memberontak. Ia mencoba melepaskan diri dari ikatan di tangannya, tapi sia-sia. Yuga hanya tertawa keras melihatnya.
"Jangan banyak gerak, Erikc. Nanti tangan lo bisa luka," ujar Yuga santai, tangannya memegang sebuah pistol sambil bersiul pelan.
"Orang gila! Lepasin gue nggak?!" Erikc mengertak, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan. Ia tahu, jika terlihat lemah, Yuga hanya akan semakin mengintimidasinya.