Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika tidak bisa bercerita maka menulis adalah satu satunya cara untuk mengungkapkan perasaan.
Itulah kata-kata yang pernah di ucapkan psikiater Henry.
***
Henry menutup buku jurnalnya, sudah dua tahun belakangan ini Henry kerap menulis semua perasaannya di buku jurnal Bersampul coklat ini, semua atas saran psikiaternya.
Jurnal yang di tulis semuanya tentang Erikc, saudara kembarnya. Henry tidak peduli, jika ada orang yang tidak sengaja membaca jurnalnya dan mengatakan jika Henry adalah orang yang punya obsesi dengan Erikc. Dia tidak peduli karena ia sadar ia sudah begitu obsesi dengan saudaranya itu. Banyak hal yang di tulis Henry di dalam jurnalnya, tentang hubungannya dengan saudara kembarnya yang sedikit canggung, seolah di pisahkan oleh pembatas yang tak kasat mata.
Sejak kecil Henry sangat menyukai Erikc, dia selalu ingin bermain dengan kakak beda lima menitnya itu, namun yang sering di dengar Henry dari mulut Erikc adalah" sana janganganggu aku"atau "pergi sana jauhjauh"
Setahun setelah kecelakaan itu, Erikc begitu rapuh. Dia sering mengalami sesak napas, menangis, dan mengeluh, merasakan beban yang tak bisa ia ungkapkan. Bunda selalu marah-marah, mungkin karena kelelahan mengurus tiga anak sendirian tanpa pengasuh, ditambah lagi harus mengurus rumah yang tak pernah ada habisnya. Henry, yang merasa kasihan melihat keadaan Erikc, ingin menghiburnya.
Sambil membawa bola, Henry menghampiri Erikc yang sedang duduk di depan TV. "Erik, mau main bola gak?" tanya Henry dengan nada yang ceria.
Erikc yang tengah asyik menonton TV menoleh ke arah Henry, tatapannya nyalang dan penuh kemarahan. Henry berdiri tak jauh darinya sambil memegang bola, mencoba menawarkan sedikit hiburan.
"Jangan ganggu aku!! Sana, pergi!!!!" teriak Erikc, suaranya keras dan penuh frustrasi.
Tanpa ampun, Erikc melemparkan remote TV dengan kasar, dan remote itu tepat mengenai pelipis Henry.
"Erikc!! Astaga!!" bentak Ayah yang kebetulan melihat kejadian itu.
Ayah segera mendekati Henry, tampak cemas. "Henry, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanyanya, menatap pelipis Henry yang memar dengan ekspresi terkejut dan khawatir.
Henry mengusap pelipisnya yang terasa sakit. "Gak apa-apa, Ayah," jawabnya, meskipun wajahnya menahan rasa sakit.
Ayah menoleh dengan tatapan tajam kepada Erikc yang masih duduk di sana, menunduk. "Erikc, minta maaf sekarang juga!" perintah Ayah dengan nada tegas.
Namun, Erikc hanya membuang muka, menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata apapun. Kekecewaan tergambar jelas di wajah Ayah yang menatap putra tengahnya dengan rasa kecewa.