13. Kekalahan di Thailand

2.3K 110 19
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Sebuah istilah penghibur bahwa kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, atau justru kekalahan adalah sebuah tanda bahwa kau tidak layak.

****

Pertandingan semakin dekat, dan Henry bersama timnya berlatih dengan sangat keras. Coach Lee, pelatih asal Korea Selatan, benar-benar menggembleng tim sepak bola Indonesia U-17 itu tanpa ampun.

"Jangan malas! Palli... Palli!" teriak Coach Lee lantang menggunakan bahasa dari negaranya. Semangatnya yang membara menular ke seluruh tim.

Henry, meskipun hanya pemain cadangan, tidak mau kalah. Ia tetap berlatih dengan penuh semangat, karena ia tahu kapan saja ia bisa dipanggil untuk menggantikan temannya saat bertanding nanti.

Latihan hari itu berat, mulai dari berlari di lapangan hingga menaiki bukit dengan beban tambahan. Keringat membanjiri tubuh para pemain, tapi mereka terus berusaha memberikan yang terbaik.

Setelah sesi latihan keras yang melelahkan, Coach Lee akhirnya memberikan waktu istirahat. "Sekarang kalian boleh istirahat! Makan atau ibadah bagi yang Muslim," ujar Coach Lee dengan nada lebih santai.

Para pemain pun segera memanfaatkan waktu itu untuk memulihkan tenaga, makan bersama, atau melaksanakan salat bagi yang beragama Islam.

Henry adalah salah satu pemain yang taat beragama. Setelah menunaikan salat Dzuhur, ia duduk bersila, mengangkat kedua tangannya, memohon kepada Tuhan agar diberi kelapangan hati untuk menghadapi sikap teman-temannya yang semakin menunjukkan ketidaksukaan.

Setelah cukup lama berdzikir, Henry bangkit, melipat sajadah dan sarungnya, lalu menaruhnya kembali di tempat biasa.

Tiba-tiba Yuga, kapten Timnas, bersama Joko, Awan, dan Dipta, masuk ke kamar. Henry tidak terlalu mempermasalahkan kedatangan mereka. Bagaimanapun, kamar ini bukan hanya miliknya, dan Joko memang dekat dengan mereka.

"Oh, ini pemain titipan itu?" tanya Yuga dengan nada skeptis, menatap Henry dari atas hingga bawah dengan pandangan merendahkan.

"Aku bukan pemain titipan, ya. Lo pikir gue ini helm yang bisa dititipin?" balas Henry dengan nada dingin.

Dipta, Awan, dan Yuga tertawa sumbang. Joko yang berada di sana hanya bisa menghela napas, sudah mewanti-wanti mereka agar tidak membuat keributan.

"Heh! Bapak lo bayar berapa, hah, biar lo bisa masuk Timnas?!" ucap Dipta memancing emosi Henry.

"Gue masuk ke Timnas ini benar-benar karena Coach Lee yang milih gue!" jawab Henry dengan suara lantang, mencoba mempertahankan martabatnya.

"Alah, ngaku aja lo!" Dipta mendorong bahu Henry dengan kuat.

"Ngakuin apa? Apa yang harus gue akuin?! Kalian pikir Gabriel sehebat itu, huh?!" Henry mulai kehilangan kesabarannya.

Yuga tersenyum miring. Dengan cepat, ia menarik kerah baju koko yang dikenakan Henry. Namun sebelum situasi semakin panas, Joko bergerak cepat melerai. Ia tahu jika keributan ini sampai diketahui Coach, mereka semua bisa mendapatkan hukuman berat.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang