14. Terpuruk.

2.6K 114 24
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Erikc yang sudah mulai muak dengan ocehan Hanif, tak bisa menahan emosinya lagi. Mendengar Henry dihina seperti itu, apalagi di depan dirinya, membuatnya semakin kesal. Suasana di kelas yang tadinya tenang menjadi semakin tegang.

"Lu nggak tahu apa-apa, Hanif!" ujar Erikc dengan suara yang bergetar karena marah. "Lu pikir gampang ya masuk timnas? Lu pikir semua orang bisa jadi pemain hebat? Dia berusaha keras buat itu semua, dan lu cuma bisa ngata-ngatain dari belakang?"

Hanif hanya terkekeh, merasa tidak terpengaruh dengan kemarahan Erikc. "Buat apa jadi pemain timnas kalau akhirnya malah bikin malu?" ejeknya.

Erikc merasa seperti ada yang memukul dadanya mendengar itu. Kata-kata Hanif seperti pisau yang menusuk, tapi ia berusaha menahan diri agar tidak terjebak dalam provokasi. "Emangnya lu bisa main bola? Kalau nggak bisa, diem aja!" balas Erikc sambil menatap tajam ke arah Hanif.

Hanif tidak terima. Ia berdiri dan mendekati Erikc. "Biarin aja, gak usah, sok-sok ngelindungi si Henry,kalau kata gue udah mutlak kembaran lu itu nggak layak jadi pemain timnas," ucap Hanif.Seraya mendorong dada Erikc dengan jari telunjuknya.

Suasana semakin tegang. Azka dan Hani yang duduk di dekat Erikc langsung berusaha melerai keduanya. "Cukup, Hanif! Jangan terlalu jauh ngomongnya," Hani berkata tegas sambil menarik tangan Erikc agar tidak semakin terprovokasi.

Suasana kelas menjadi semakin mencekam salah satu murid di kelas itu pun diam diam memanggil guru.

Guru pun datang setelah mendapat laporan jika Erikc dan Hanif sedang beradu mulut. Guru itu segera berdiri di antara Erikc dan Hanif, dengan suara tegas ia memerintahkan mereka untuk berhenti bertengkar. "Cukup! Kalian berdua keluar sekarang juga, kita bicara di luar," ucap guru.

Erikc masih menatap Hanif dengan penuh amarah, tapi ia akhirnya menuruti perintah guru tersebut dan keluar dari kelas diikuti oleh Hanif. Mereka berdua berjalan ke luar dengan langkah cepat, suasana semakin panas. Azka dan Hani, yang masih berada di dalam kelas, saling bertukar pandang, khawatir dengan keadaan Erikc.

Di luar kelas, guru itu menatap mereka dengan serius. "Kenapa kalian bertengkar? Apa yang membuat kalian sampai saling berteriak seperti itu?" tanya guru dengan nada lembut.

Erikc menahan napasnya, mencoba meredakan amarah yang masih membara. "Hanif... dia menghina Henry," jawabnya, suaranya sedikit bergetar. "Dia ngomong hal buruk tentang kembaran saya. Saya nggak bisa diem aja dengerin itu."

Guru itu menghela napas, berusaha untuk tetap tenang.

Hanif, membalas omongan Erikc "Gue cuma ngomong apa yang gue pikirin. Henry itu gak layak masuk timnas, dia cuma bikin malu."

Mendengar itu, Erikc kembali merasa kesal. "Lu nggak tahu apa-apa! Lu nggak ngerti usaha dia! Lu cuma berani ngomong belakang, gak pernah lihat perjuangan dia," ucap Erikc dengan nada tinggi.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang