Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah beberapa bulan ini, sebelum berangkat sekolah, Azka selalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah rumah besar yang sudah terbengkalai. Ia membawa rantang berisi lontong sayur, makanan yang disiapkan untuk anak mantan majikan ibunya.
"Yuga..." panggil Azka.
Yuga, yang sedang sibuk dengan ponselnya, tersentak saat melihat Azka tiba-tiba datang.
"Azka, bikin kaget aja lo," ujar Yuga, menatap pemuda berseragam putih abu-abu itu.
"Mau berangkat sekolah, Ka?"
"Iya, sekalian aku bawakan sarapan buat lo," jawab Azka sambil mengangkat rantang yang dibawanya.
Yuga tersenyum ramah. Ada perasaan tidak enak dalam dirinya, terutama kepada keluarga Azka yang masih begitu perhatian padanya.
"Bilang makasih buat Bik—oh, maksudku Tante," ujar Yuga, sedikit ragu.
Yuga menghela napas. "Ibu lo bukan asisten rumah tangga keluarga gue lagi. Rasanya gak sopan kalau gue masih manggil dia Bibi. Tapi, pokoknya makasih banget."
"Ya udah, aku taruh rantangnya di sini. Kalau udah, taruh aja di wastafel. Nanti bekasnya aku cuci," kata Azka santai.
Yuga mengangguk mengerti. Saat Azka hendak pergi, Yuga kembali memanggilnya.
"Azka."
Azka menoleh. "Iya?"
Yuga menatapnya sebentar, lalu berkata tulus, "Makasih ya."
Azka tersenyum lebar. "Udah berapa kali bilang makasih? Sekali lagi lo berterima kasih, gue kasih payung!"
Yuga tertawa mendengar lelucon temannya itu.
****
Henry masih menatap layar ponselnya dengan seksama. Ia begitu fokus hingga mengabaikan ayahnya, yang sedang bersiap mengantarnya ke sekolah.
"Hen, lagi apa sih? Kok layar ponselnya ditatap kayak gitu?" tanya sang ayah, bingung.
"Oh, gak apa-apa, Yah. Ini lagi nungguin informasi dari klub," jawab Henry tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Ayahnya mengangguk pelan. "Hen, kalau ada masalah, cerita, ya. Jangan suka mendem sendiri. Kita selesaikan bareng-bareng."
Henry tersenyum lembut ke arah ayahnya. "Santai, Yah, semuanya