31 Tidak mudah.

1.4K 89 7
                                        

Tubuh Erikc terasa remuk redam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tubuh Erikc terasa remuk redam. Menjadi seorang asisten freelance ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Jadwal Henry begitu padat—mulai dari latihan, syuting iklan, pemotretan, hingga aktivitas lainnya. Semua itu benar-benar menguras tenaga Erikc.

Saat Erikc sedang bersandar di kursi kelas dengan wajah lesu, Azka tiba-tiba menempelkan sekaleng minuman energi yang dingin ke pipinya. Erikc langsung tersentak.

"Sialan lu!" umpat Erikc sambil men
epis tangan Azka, raut wajahnya kesal.

Azka tertawa kecil. "Lu kenapa sih? Lesu banget. Anemia lu , ya?" tanyanya, setengah bercanda.

"Bukan anemia," balas Erikc dengan suara lelah. "Badan gue remuk semua. Henry kalau kerja gila banget, semua endorse dia embat. Dari produk minuman, sepatu, parfum, skincare—pokoknya apa aja dia ambil. Belum lagi sesi latihannya. Edan,  gempor total!"

Azka terkekeh mendengar keluhan panjang lebar dari temannya itu. "Hahaha, pantes aja lu kelihatan kayak mayat hidup sekarang."

Erikc hanya mendengus, malas menanggapi. Ia kembali menyandarkan kepalanya diatas meja, kelas saat ini sedang sepi karena sudah waktu istirahat.

"Ya, lagian ngapain sih lu so-soan jadi asisten? Terus gimana? Udah tau sisi gelapnya Henry belum?" tanya Azka sambil menahan tawa.

Erikc mendengus. "Mati lampu, sumpah. Henry itu gelap banget."

Azka langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Erikc. "Hahaha! Belum bayar listrik kali, makanya gelap!"

Sambil masih terkekeh, Azka membuka minuman kalengnya dan meneguk isinya. Ia lalu menunjuk gambar Henry yang terpampang di kaleng itu. "Tau nggak? Minuman ini jadi laris banget gara-gara Henry. Gila banget, kan?"

Erikc memutar bola matanya, malas membahas adik kembarnya lagi. "Gak tau, dan nggak mau tau. Gue muak sama dia," katanya sambil menyandarkan kepalanya lagi di atas meja.

Azka hanya tersenyum melihat temannya yang terlihat benar-benar lelah.

Tak lama, Hani datang dengan wajah yang tak kalah lesu dari Erikc. Ia langsung menjatuhkan diri di kursi sebelah Erikc dan menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Gue juga muak... muak sama bimbel," keluh Hani dengan nada putus asa.

Erikc meliriknya sekilas, lalu kembali menutup matanya. "Welcome to the club," gumamnya lemah.

Azka, yang duduk di seberang mereka, hanya tertawa kecil sambil mengangkat kaleng minuman di tangannya. "Gue juga muak... muak sama kalian berdua," celetuknya sambil menyeringai.

Hani mendesah panjang, lalu menatap Azka dengan tatapan malas.

***

Malam itu, Erikc masih setia menemani Henry yang sedang menjalani sesi pemotretan untuk sebuah brand pakaian olahraga. Henry terlihat sangat tampan dan percaya diri saat berpose di depan kamera.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang