24 jersy yang sama

1.5K 80 2
                                        

Erikc tidak merasakan euforia atas kemenangan timnas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Erikc tidak merasakan euforia atas kemenangan timnas. Dia hanya diam terpaku, berbeda dengan Azka dan keluarganya yang bersorak gembira. Malam itu, Erikc sedang berada di rumah Azka. Awalnya, Azka mengajaknya untuk menonton pertandingan bersama keluarganya di rumah, berharap suasana hangat dan semangat akan membuat Erikc merasa lebih baik. Namun, Erikc tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri, jauh dari sorak-sorai kebahagiaan di sekitarnya.

Azka menoleh pada Erikc yang sejak tadi terus menghela napas, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Kenapa sih dari tadi galau mulu? Ada masalah apa lagi?" tanya Azka, suaranya penuh rasa ingin tahu, meski ada sedikit nada bercanda untuk mencairkan suasana.

"Gak apa-apa, cuma lagi galau sedikit," ucap Erikc, enggan menceritakan kejadian kemarin yang membuatnya mendapat tamparan keras dari Rangga, lengkap dengan makian yang menyakitkan.

"Galau sedikit kenapa? Gak punya duit, ya? Tapi gak mungkin, kamu kan anak CEO. Masa iya gak punya duit," goda Azka sambil menyipitkan mata, mencoba menebak.

Erikc hanya menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak di dadanya.

"Kenapa sih? Gak pantes banget lu jadi cowok galau," sindir Azka lagi.

Erikc mengalihkan pandangannya ke arah Azka. "Curhatnya jangan di sini, malu. Di kamar lu aja."

Azka menghela napas, lalu berdiri. "Yaudah, ayo."

Ia menggiring Erikc ke kamarnya, menjauh dari keramaian keluarga Azka yang masih asyik berkumpul di ruang TV.

Sesampainya di kamar, Azka langsung menatap Erikc dengan serius. "Ayo, cerita sekarang. Udah sepi, gak ada yang dengerin," ujarnya.

Erikc menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan kejadian semalam. Azka mendengarkan dengan seksama tanpa menyela, sesekali mengangguk tanda mengerti.

"Oh, jadi itu sebabnya lo galau," gumam Azka pelan. "Masalah keluarga, ya?"

Erikc mengangguk. "Jadi menurut lo, gue harus ngapain sekarang?" tanyanya dengan nada putus asa.

"Minta maaf," jawab Azka tanpa ragu. "Karena menurut gue, lo udah keterlaluan banget."

"Minta maaf?" Erikc mengulang dengan nada skeptis, seolah tak yakin.

Azka mengangguk tegas. "Iya, harus. Mau gimana lagi? Lo udah salah."

Erikc terdiam, mulai memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada ayah dan bunda. Wajahnya tampak ragu. "Tapi gimana caranya, ya?" gumamnya sambil melirik Azka, yang saat itu tengah asyik mengambil sepotong sale pisang dari piring di meja.

Azka mengunyah pelan, berpikir sejenak. "Hmm... gak tau. Sebisa lo aja deh," jawabnya santai.

Erikc mendengus kesal. "Lo kadang emang temen yang gak bisa diandalkan," gerutunya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang