38. Kembali canggung.

2.4K 107 5
                                        




Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Henry melangkah masuk ke ruang rawat ayahnya. Di atas ranjang, ia melihat seseorang yang sedang meringkuk membelakanginya. Tanpa berpikir panjang, Henry mendekat, naik ke ranjang, dan langsung memeluk sosok itu dari belakang, yakin bahwa itu adalah ayahnya.

Namun, tiba-tiba orang itu membalikkan badan. Henry tersentak kaget—yang ia peluk ternyata bukan ayahnya, melainkan Erikc, saudara kembarnya.

"Ngapain lo di sini?!" seru Henry dengan nada keras.

"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain di sini?!" balas Erikc tidak kalah ketus.

"Gue mau ketemu ayah."

Henry mengedarkan pandangannya. "Ayah mana?" tanyanya, bingung.

Erikc hanya menggeleng pelan. "Gak tau. Tadi aku cuma disuruh tidur sama ayah. Pas bangun, tiba-tiba ada lo di sini.

Henry terdiam sejenak, membiarkan ruangan dipenuhi keheningan. Erikc, tanpa berkata apa-apa lagi, kembali berbaring. Ia tak ingin banyak berinteraksi dengan Henry. Rasa sakit hati terhadap ucapan Henry dua hari yang lalu masih mengganjal di dadanya.  Henry tidak pernah berubah—bagi Erikc, Henry adalah si ahli manipulatif yang tak pernah mau meminta maaf.

Tak lama kemudian, ayah masuk bersama bunda. Ternyata mereka baru saja berjalan-jalan keluar, meski ayah masih membawa infus di tangannya.

"Loh, Henry sudah di sini rupanya," ujar bunda sambil tersenyum.

"Ayah habis dari mana?" tanya Henry dengan nada dingin, nyaris tanpa emosi.

"Jalan-jalan sebentar. Ayah bosan kalau terus-terusan di kamar," jawab ayah santai.

Henry memandang ayah dengan tatapan tajam. "Harusnya ayah lebih banyak istirahat. Ini lagi, kenapa Erikc malah sabotase tempat tidur ayah?" tanyanya penuh nada protes.

"Tadi Erikc demam, Henry," jawab ayah lembut. "Jadi ayah biarkan dia tidur di ranjang ayah. Lagi pula, ayah tidak apa-apa kok. Laki-laki selain demam itu aman," lanjut ayah sambil tersenyum khas, mencoba mencairkan suasana.

Henry mendesah pelan, lalu turun dari ranjang tanpa berkata apa-apa lagi. Ia berjalan kearah tas besarnya, dan menyampirkan tas itu di pundak nya.

"Loh, Henry mau ke mana?" tanya bunda ketika melihat Henry yang bersiap pergi lagi.

Namun, Henry tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan bunda dan ayah yang saling bertukar pandang dengan bingung.

***

Akhirnya, ayah diizinkan pulang. Sebelum itu, dokter memeriksa kondisi lengan ayah yang terlihat masih memar dengan bekas luka bakar yang cukup jelas. Beruntung, sistem sarafnya tidak mengalami kerusakan serius, sehingga tangannya tetap dapat digerakkan dengan baik, meskipun bekas luka itu mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang