37 Maaf kan Ayah

2.8K 108 1
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.









Erikc saat ini berada di rumah Azka.
Awalnya Erikc mau pulang kerumahnya namun Azka tidak tega membiarkan Erikc tinggal sendirian dirumahnya dan akhirnya ia membawanya kerumah Azka, dan sekarang ia sedang demam tinggi, membuat seisi rumah Azka kerepotan.

Ibu Azka masuk ke kamar sambil membawa baskom besar berisi air hangat untuk mengompres Erikc.

"Aduh, Bu, itu baskom besar banget. Emangnya Erikc bayi yang mau dimandiin?" keluh Azka.

"Gak ada baskom kecil. Adanya cuma yang besar," jawab ibunya santai.

Azka hanya bisa menghela napas panjang. Semiskin itukah keluarganya sampai baskom kecil pun gak punya?

Dengan sedikit kesal, Azka mengambil baju bekas milik kakak perempuannya untuk mengompres kening Erikc. Di rumahnya memang tidak ada kain atau handuk kecil untuk keperluan seperti ini. Kalau Azka sakit, biasanya ia hanya dikerok lalu tidur pakai sarung.

Awalnya, ibu Azka berniat membeli obat warung untuk Erikc. Namun, Azka merasa ragu karena Erikc sering keluar masuk rumah sakit. Ia khawatir obat warung tidak cocok untuk Erikc. Akhirnya, Azka memutuskan menelepon Rangga menggunakan ponsel milik Erikc. Benar saja, Rangga melarang Azka memberikan obat warung dan menyarankan membeli obat yang sesuai resep darinya.

Tak lama kemudian, kakak perempuan Azka datang membawa kantong berisi obat dan plester pereda demam.

"Ini, Ka. Obatnya udah bener, kan?" tanya Azka sambil menunjukkan isi kantongnya.

"Oh, iya, bener, Teh. Makasih, ya. Eh, ini berapa totalnya?" tanya Azka.

"Gak usah, gak apa-apa. Gak usah diganti," jawab kakaknya santai.

"Enggak, soalnya kakaknya Erikc transfer ke dana aku. Banyak banget, lagi."

"Berapa emang?"

"Dua juta."

"Anjing, gede banget!"

Azka hanya mengangkat bahu.

"Yaudah, sini transfer ke teteh sejuta."

"Dihhh..."

Azka menempelkan plester anti demam di kening Erikc. Ia menatap sendu sahabatnya itu. Entah mengapa, ia merasa kasihan pada Erikc. Padahal, kalau dipikir-pikir, yang seharusnya dikasihani adalah dirinya sendiri. Ia jauh lebih miskin dibanding Erikc.

Tengah malam, Rangga tiba di rumah Azka. Pintu dibuka oleh Azkia, kakak perempuan Azka. Saat melihat Rangga, Azkia langsung tertegun. Ketampanan pemuda itu membuatnya kagum, apalagi ketika Rangga tersenyum. Hati Azkia serasa meleleh.

"Assalamualaikum, maaf mengganggu malam-malam. Saya kakaknya Erikc," ucap Rangga sopan.

Azkia membulatkan mulut. "Oh, kakaknya Erikc," gumamnya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang