49 masuk perangkap

1.3K 69 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Mereka masih duduk di kamar yang sunyi itu, tenggelam dalam diam. Hanya suara napas dan detak jam di dinding yang terdengar.

"Mau gue hubungin Azka?" tawar Erikc, mencoba menawarkan solusi.

Yuga menggeleng, tatapannya tetap kosong. "Jangan, Rikc. Gue nggak enak sama Azka. Dia udah banyak bantu gue."

Erikc mengangguk, memahami perasaan Yuga.

Waktu terus berjalan, dan ketika Erikc melirik jam di ponselnya, angka 22.00 sudah terpampang di layar. Ia menghela napas. "Udah jam sepuluh, Ga. Gue harus pulang."

Baru saja ia hendak bangkit dari duduknya, Yuga tiba-tiba menahan tangannya. Cengkramannya erat, seolah takut Erikc benar-benar pergi.

"Tega lo ninggalin gue sendirian? Gue lagi butuh temen. Please, di sini sebentar aja," ucap Yuga lirih, nada suaranya memohon.

Erikc terdiam sesaat. Ia menatap wajah Yuga yang terlihat begitu lelah, begitu rapuh. Rasa tidak tega menyelimutinya, membuatnya menghela napas pelan sebelum kembali duduk di samping sahabatnya.

"Oke, gue temenin," jawabnya akhirnya.

Yuga tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap lurus ke depan, sementara Erikc tetap di sampingnya. Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, tapi kali ini, keheningan itu terasa lebih hangat.
"Keluarga lo cemara banget ya, Rikc," ujar Yuga tiba-tiba, memecah keheningan.

Erikc menoleh, agak kaget dengan komentar itu. "Nggak juga sih, Ga. Ada ribut-ribut juga, kita sering salah paham."

Yuga mendengus kecil. "Salah paham yang cepet diselesaikan, kan?"

Erikc terdiam sesaat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Walaupun ia kasihan pada Yuga, ada sesuatu dalam percakapan ini yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Tiba-tiba Yuga bangkit. "Rikc, lo mau minum nggak? Papah gue punya koleksi wine banyak."

Erikc langsung menggeleng. "Nggak, gue nggak bisa minum... jantung gue ada masalah."

Wajah Yuga langsung merengut kecewa. "Padahal gue pengen minum sama lo. Sedikit aja nggak apa-apa, mungkin... segelas?"

"Nggak, Ga. Merokok aja gue nggak berani, apalagi minum," Erikc menolak dengan tegas.

Namun, Yuga tidak mendengarkan. "Tunggu ya, gue ambil wine dulu."

"Eh, Yuga, gue beneran nggak bisa minum!" Erikc berusaha mencegah, tapi Yuga sudah melangkah pergi, menggunakan senter dari ponselnya untuk menerangi jalan.

Tak lama kemudian, Yuga kembali dengan dua botol wine di tangannya, senyumnya cerah seolah tak ada masalah yang menghimpitnya tadi.

"Ini minuman mahal. Beberapa udah gue jual buat kebutuhan hidup. Minuman ini disimpen di bunker, jadi KPK nggak akan tahu. Makanya nggak disita," katanya enteng, sebelum menuangkan wine ke dalam gelas.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang