50 Yuga

1.3K 78 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Erikc mengahdiri pemakaman mamanya Yuga. awalnya, ia ragu untuk datang. Ada ketakuttan yang tersisa dalam dirinya setelah apa yang dilkukan Yuga padanya__terutama soal gelang yang ternyata di pasangin kamera pengawas tampa sepengetahuannya. Namun, pada akhirnya, Ia tetap datang.

Diruang depan, jenazah mamah Yuga dikelilingi para pelayat yang melantunkan Yasin. Keluarga menunggu kedatangan papah Yuga, yang sedang dalam perjalanan. Pri itu ingin melihat wajah istrinya untuk terakhir kali.

tak lama, suara mobil terdengar di depan rumah duka.Seorang pria berperawakan tegap turun, kedua tangannya terborgol. Begitu melihat jenazah istrinya,ia meraung, tangisnya penuh kepedihan.

Namun Yuga tetap diam di tempatnya. Tidak ada ekspresi diwajahnya, seolah tiak peduli dengan raungan pedih Papanya.

Lalu tiba-tiba__

"Anak setan! Lu apain istri gue?! Lo bunuh dia, kan?!"

Papa Yuga berdiri dan tampa perigatan, ia mengayunkan tangannya, memukul kepala Yuga. Besi borgol yang melingkar di pegelangannya ikut menghantam pelipis anak itu, membuat darah mngalir dari lukanya.

Azka yang mlihat kejadian itu langsung berlari menghampiri Yuga, menyeka darah di pelipisnya dengan tisu. Beberapa orang menahan sang Papa agar tidak bertindak lebih jauh.

Disisi lain ruangan, Erikc yang menyaksikan semua ini tiba-tiba merasakan sesuatu di dadanya. Rasa nyeri menusuk,seolah dadanya diremas kuat. 

"Akhhh..!

Keluhan itu cukup untuk menarik perhatian Hani yang duduk disampingnya.

"Erikc! Lo kenapa?!" Hani buru buru megenggam lengannya,wajahnya penuh kekhawatirran.

"Hani, dadaku sakit lagi... Gue mau pulang."Adu Erikc, masih meremas dadanya. Wajahnya berubah pucat.

Tanpa pikir panjang, Hani segera membantu Erikc berdiri. Matanya langsung mencari Azka.

"Ka, dada Erikc sakit lagi katanya," ucapnya cemas.

Azka, yang masih mengenakan koko dan peci hitam, segera menghampiri mereka. "Lo nggak apa-apa? Azka langsung menatap khawatir Erikc.

Lau tatapannya beralih pada Hani"⁶Bisa anterin Erikc pulang, Han?"

"Iya, bisa," jawab Hani mantap.

Azka mengangguk. "Hati-hati ya, Hani."

Di dalam bus, Erikc hanya terdiam. Pandangannya kosong, terus menatap ke luar jendela. Hani meliriknya sekilas, tapi ia tidak tahu apa yang sedang Erikc pikirkan.

Tiba-tiba, suara Erikc memecah keheningan. "Hani, gue boleh bersandar nggak...? Kepala gue pusing banget."

Tanpa ragu, Hani mengangguk cepat. "Boleh."

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang