Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepuluh tahun telah berlalu. Siapa sangka Erikc, yang dulu bercita-cita menjadi jurnalis, justru berbelok arah menjadi seorang kameramen film? Saat kuliah di Boston, Amerika, ia tiba-tiba tertarik dengan dunia perfilman. Kini, ia bekerja sebagai kameramen dalam film garapan Hollywood, meskipun terkadang harus menjalani pekerjaan yang cukup berbahaya.
Mengenakan kaus putih, celana kargo selutut, dan topi, Erikc berdiri dengan kameranya, merekam adegan aksi yang menegangkan. Ia harus memastikan setiap sudut pengambilan gambar sesuai dengan yang diinginkan sutradara.
"Oke!" ucap Erikc, mengangkat jempolnya tanda pengambilan gambar selesai.
Setelah syuting, Erikc membuka ponselnya. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Indonesia langsung memenuhi layar.
"Kapan balik, woi?"
"Betah banget lo di Amerika!"
Erikc terkekeh membaca pesan-pesan dari Rangga dan Henry. Ada juga pesan dari Bunda dan Ayah. Tak lama kemudian, ponselnya berdering—panggilan dari Rangga.
"Kapan pulang, Bang Toyib? Lo tiga kali puasa, tiga kali Lebaran nggakbalik!" ujar Rangga, bercanda.
Erikc tertawa kecil. "Sorry, Bang. Kerjaan lagi padat banget. Minggu depan gue balik, kayaknya gue bakal tinggal di Indo aja. Capek di sini terus, sutradaranya banyak maunya."
"Ya, siapa suruh lo mendekam disana?" Rangga meledek.
"Iya, iya. Gimana kabar Bunda sama Ayah?"
"Ya, begitulah. Semakin romantis. Kalau Bunda masih bisa, mungkin lo udah punya adik lagi sekarang," canda Rangga. "Eh, tapi Bunda udah adopsi anak cewek. Lo udah lihat dia belum? Udah lima tahun, gembul banget, cerewet pula."
Erikc terkekeh. Selama lima tahun terakhir, ia memang jarang pulang karena pekerjaannya yang semakin padat. Namun, proyek ini akan menjadi film terakhir yang ia garap di luar negeri. Setelah ini, ia berencana kembali ke Indonesia dan bekerja sama dengan sutradara lokal.
"Bunda selalu ngirimin foto-foto Elijiah. Kayaknya galeri foto gue lebih banyak isinya Elijiah daripada foto diri gue sendiri," ujar Erikc, tertawa.
Suara tawa terdengar dari seberang. Setelah lama mengobrol, akhirnya sambungan telepon terputus. Erikc kembali memasukkan kameranya ke dalam tas, tapi sebelum itu, ia mengelap setiap lensa dengan hati-hati—kebiasaan yang selalu ia lakukan setelah bekerja.
"Are you really going back toIndonesia?" Tanya sang sutradara bernama Ethan.
"Yep, it's time for me to go home."
ujar erikc dengan bahasa ingrisnya yang sudah fasih.
"I really like your work, but what can I do? It's your decision. If I work on another film in the future, would you be willing to be my cameraman again?" tanya Ethan penuh harap.