33 liburan ke bogor

1.4K 80 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Ujian semester pun tiba. Henry terpaksa absen dari latihan karena harus mengikuti ujian kenaikan kelas. Namun, saat melihat soal-soal ujian, ia merasa bingung. Dari soal pilihan ganda hingga esai, semuanya terlihat sulit baginya. Hari itu adalah ujian matematika, dan Henry sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.

"Huff," Henry mendesah, tapi ia tidak peduli. Ia menjawab soal-soal pilihan ganda dengan asal-asalan, menghitung kancing untuk menentukan jawabannya. Dalam pikirannya, pasti ada satu yang benar. Ketika sampai pada soal esai, ia hanya menulis, "Tidak tahu." Setelah itu, Henry membalik lembar soal, menyandarkan kepalanya di atas meja, dan tertidur.

Berbeda dengan Henry, Azka masih mencoba berpikir keras meski pada akhirnya tetap mentok di beberapa soal. Ia sempat melirik ke arah Henry yang sudah pulas tertidur. Dalam hati, Azka berpikir, "Henry memang santai. Dia bahkan tidak serius belajar, tapi sudah punya penghasilan sendiri."

Di sisi lain, Hani terlihat begitu khusyuk mengerjakan setiap soal dengan penuh konsentrasi. Sementara itu, Erikc, meskipun sering dianggap bodoh, sebenarnya diam-diam cukup pintar. Anehnya, meski hampir tidak pernah belajar, ia tetap mampu menjawab soal dengan baik.

"Shtt, shtt, Erikc!" Azka memanggil Erikc yang duduk di depannya. Memang, setiap ujian, tempat duduk siswa selalu diacak.

"Apa?" Erikc menoleh ke belakang.

"Minta jawaban," bisik Azka pelan.

"Bentar, gue belum selesai."

Azka sering merasa bersyukur punya teman seperti Erikc. Selain pintar, Erikc juga tidak pelit. Beda dengan Hani, yang kalau dimintai jawaban malah ngajarin. Enggak asik sih Hani itu, pikir Azka.

Tak lama, sebuah kertas kecil melayang ke arahnya. Azka segera menangkap dan membuka gulungan kertas itu. Ia melotot tidak percaya. Semua jawaban, mulai dari pilihan ganda sampai esai, ada di situ!

Dengan cepat, Azka mulai menyalin jawaban, tapi tidak semuanya. Bagaimanapun, ini milik Erikc. Ia harus tahu diri—biarkan Erikc mendapat nilai yang lebih tinggi.

Henry yang melihat Azka mendapatkan jawaban langsung memanggilnya.

"Azka, minta!" katanya setengah berbisik.

"Bentar, gue dulu," jawab Azka sambil fokus menyalin.

Setelah selesai mencontek dengan tenang—karena pengawas malah tertidur di depan kelas—Henry segera mengambil kertas jawaban dari Azka.

Berbeda dengan Azka, yang hanya menyalin sebagian, Henry menyalin semuanya tanpa terkecuali.

Setelah ujian matematika, mereka berempat—Erikc, Azka, Hani, dan Henry—berkumpul di kantin untuk mengisi energi yang terkuras habis.

Erikc memesan mi ayam, seperti biasanya. Sudah hampir dua minggu ia tidak makan mi ayam, dan rasanya ia benar-benar rindu makanan favoritnya itu.

Henry, yang sedang diet karbo, hanya memakan salad yang ia bawa dari rumah. Sementara itu, Hani dan Azka memutuskan memesan siomay saja karena mereka sudah muak dengan mi ayam.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang