25 Stadion GBK.

1.4K 83 1
                                        

Di kantin sekolah, Erikc, Hani, dan Azka sedang menikmati semangkuk mi ayam sambil tenggelam dalam canda tawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di kantin sekolah, Erikc, Hani, dan Azka sedang menikmati semangkuk mi ayam sambil tenggelam dalam canda tawa. Suasana semakin meriah ketika Azka melontarkan sebuah lelucon yang berhasil membuat Hani tertawa lepas.

Di tengah keceriaan itu, Erikc diam-diam mengambil ponselnya dan mulai memposisikan kamera dengan hati-hati. Ia mengatur sudut agar kamera dapat menangkap dirinya bersama Azka dan Hani. Sementara itu, Hani dan Azka yang masih sibuk bercanda belum menyadari bahwa mereka sedang direkam.

Erikc mengeluarkan dua tiket untuk menonton semifinal di GBK yang akan digelar besok malam. Diam-diam, ia meletakkan tiket tersebut di samping Azka, berharap temannya segera menyadarinya.

Namun, sejak tadi Azka tetap tidak menyadari keberadaan tiket itu. Padahal, Erikc awalnya berniat membuat tren seperti yang sering viral di media sosial. Ia bahkan sudah menyiapkan kamera ponselnya untuk merekam momen tersebut.

Karena kesal melihat Azka tak kunjung peka, Erikc akhirnya menolehkan kepala Azka ke arah meja, tepat ke arah dua lembar tiket yang tergeletak di samping gelas es tehnya. "Nih, liat!" ujar Erikc, setengah jengkel.

"Huaaaaaa!!" Azka berteriak kencang begitu melihat tiket tersebut. Ia menatap Erikc dengan wajah penuh haru, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tanpa berpikir panjang, Azka langsung memeluk Erikc dengan penuh semangat. Namun, Erikc dengan cepat menepis pelukan itu sambil berkata, "Lepas...!!" nada suaranya setengah kesal.

Azka yang tak peduli malah terus melompat kegirangan. "Ya Allah, makasih ya Allah! Engkau telah memberikan aku sahabat kaya raya yang sangat berguna. Alhamdulillah, ya Allah!" serunya penuh semangat, sambil mengangkat tangan ke langit. Azka terus mengucap syukur tanpa henti, membuat Erikc hanya bisa memutar matanya malas melihat kelakuan sahabatnya itu.

Hani  mencebikkan bibir, merasa iri melihat Azka yang mendapat tiket gratis.

"Akunya nggak dikasih nih, Rikc?" tanyanya dengan nada sedikit cemburu.

"Dikasih dong, itu kan tiketnya dua," jawab Erikc santai. Mendengar itu, ekspresi Hani langsung berubah cerah, matanya berbinar penuh antusias.

"Terus lu gimana, Rikc?" Azka bertanya sambil menatap Erikc dengan bingung.

"Ya gue ikut nonton lah, tiketnya udah ada di rumah," jawab Erikc dengan santai.

****

Sepulang sekolah, Erikc melihat sebuah mobil yang dikenalnya terparkir di depan rumah. Mobil itu milik Rangga, kakak tertuanya. Erikc langsung tahu bahwa Rangga ada di rumah. Namun, ia merasa heran—jarang sekali Rangga pulang di sore hari, apalagi saat matahari masih tinggi seperti ini.

Setelah membuka pintu dan melangkah masuk, Erikc bertemu dengan Rangga di ruang tengah. Kakaknya mengenakan pakaian santai: celana training dan hoodie abu-abu yang terlihat nyaman.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang