Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Erikc mengajak Hani untuk menonton film, tetapi ia merasa canggung jika hanya pergi berdua. Karena itu, ia memutuskan untuk mengajak Azka.
Sejak tadi, Erikc sudah mencoba menghubungi Azka berkali-kali, tetapi teleponnya terus diabaikan.
Merasa kesal, Erikc akhirnya datang langsung ke rumah sahabatnya itu. Saat tiba, ia mendapati Azka masih mengenakan pakaian rumah, tengah mencuci motornya di halaman depan.
"Mau apa lo ke rumah gue?" tanya Azka dengan ekspresi datar, tangannya masih memegang selang air.
"Nonton film, yuk," ajak Erikc tanpa basa-basi.
Azka mendengus pelan lalu mematikan keran. "Lo kan udah punya Hani. Kenapa nggak sama dia aja?"
Erikc mencebik, lalu tanpa ragu menarik lengan Azka dan bertingkah sok imut di depannya.
"Ngerayu gue, ya?" Azka menatapnya malas. "Sorry, walaupun gue patah hati, gue nggak akan belok."
Alih-alih tersinggung, Erikc malah tertawa renyah.
"Ya sebenarnya, gue nonton filmnya sama Hani juga," jelasnya. "Tapi gue ngerasa bakal canggung kalau cuma berdua."
Azka mendengus, menyilangkan tangan di dada. "Kalian nggak bakal berdua kok," ujarnya sarkastik. "Kan ada setan yang jadi yang ketiga."
"Azka, please... ayo dong, jangan marah lagi. Kita kan sahabat."
Azka menyeringai miring. "Sahabat, kau bilang? Sahabat macam apa yang nikung sahabatnya sendiri, huh?!"
"Aku gak nikung kamu kok," Erikc membela diri. "Oke, aku jujur. Aku memang suka sama Hani sejak pertama masuk SMA. Tapi waktu itu, aku lihat kamu juga sepertinya suka sama dia, jadi aku memilih buat memendam perasaanku."
Azka mendengus sinis. "Gak usah bohong! Kau pikir aku gak tahu? Kau pernah nembak Hani, kan? Tapi ditolak!"
Erikc menggaruk tengkuknya, canggung. "Iya, iya, gue salah. Gue minta maaf, deh. Please... nih, gue punya sesuatu buat lo."
Erikc mengeluarkan sebuah Black Card dari dompetnya.
Mata Azka membelalak. "Gila, lo punya kartu begini?!"
Erikc terkekeh. "Sebenarnya bukan punya gue, tapi punya Bunda."
"Nanti lo boleh beli apa aja yang lo mau."
Azka menatap kartu itu dengan penuh pertimbangan sebelum akhirnya menghela napas. "Oke, deal."
Erikc menyodorkan kunci motornya. "Lo yang nyetir."
"Tunggu di sini. Gue ganti baju dulu." Azka bergegas masuk ke dalam rumah.
Lima menit kemudian, ia keluar dengan gaya kasualnya. Azka meraih kunci motor sport milik Erikc, lalu mereka pun pergi bersama. Erikc dan Hani sudah janjian di bioskop.