8.salah paham

3.6K 160 6
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Saat Erikc dan Henry berusia tiga tahun, ayah mendapat bonus dari kantor berupa tiket liburan ke Swiss selama tiga hari. Ini adalah pengalaman pertama Erikc naik pesawat. Anak kecil seusianya tentu merasa cemas dan tidak nyaman, terutama saat pesawat mulai lepas landas. Erikc dan Henry menangis kencang, tapi fokus bunda hanya pada Henry yang menangis histeris karena ketakutan.

Erikc merentangkan tangan, meminta dipeluk juga, namun bunda malah sibuk menenangkan Henry. Ayah, di sisi lain, tertidur berdampingan dengan Rangga, seolah tidak peduli dengan kerepotan istrinya.

"Erikc, sayang, diem ya. Jangan nangis terus! Nanti dimarahin sama om, tuh," kata bunda, mencoba menakut-nakuti agar Erikc berhenti menangis. Bunda merasa tidak enak dengan penumpang lain karena suara tangisan Erikc yang begitu kencang.

Seorang pramugari akhirnya datang menghampiri Erikc. Dengan senyum ramah, ia memberikan lolipop untuk menenangkan bocah itu. Erikc pun terdiam, menikmati lolipop pemberian pramugari cantik tersebut.

Namun, ketika bunda berbicara dengan ayah, Erikc mendengar sesuatu yang menyakitkan.

"Lain kali jangan ajak si Erikc, ya. Rewel banget dia," ucap bunda dengan nada kesal.

"Ya sudah, kalau begitu kita titipkan saja ke mamah," balas ayah santai, sambil tetap memejamkan mata.

Erikc, meski masih kecil, memahami maksud percakapan itu. Dalam hati, dia bertanya-tanya kenapa dirinya disebut rewel, padahal Henry juga menangis keras. Dia merasa tidak adil—dia hanya menangis karena takut dan tidak nyaman, bukan karena ingin mengganggu. Namun, bunda dan ayah tidak melihatnya dari sisi itu.

Ketika mereka tiba di Swiss, cuaca bulan Desember sangat dingin. Keluarga kecil itu keluar dari bandara untuk mencari taksi. Namun, mencari taksi yang memiliki car seat untuk dua balita ternyata sulit. Henry mulai kedinginan, dan bunda memeluknya semakin erat untuk menghangatkannya. Rangga  memeluk lengan ayah, sementara Erikc hanya berdiri di samping, merasa diabaikan.

Dingin yang menusuk membuat Erikc tidak tahan lagi. Dia mulai menangis dan tantrum karena ingin dipeluk atau digendong. Namun, di usia tiga tahun, Erikc belum bisa menyampaikan maksudnya dengan jelas.

Bunda, yang sudah lelah dan kesal, kehilangan kendali. Ia mencubit lengan Erikc hingga memar. Erikc menangis semakin keras, namun bukan hanya karena sakit, melainkan karena rasa kecewa dan sedih yang belum bisa ia ungkapkan.

Setelah kejadian di Swiss itu, Erikc tidak pernah lagi diajak liburan. Setiap kali keluarga mereka merencanakan perjalanan, Erikc selalu dititipkan kepada nenek dari pihak ayah.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kecelakaan besar itu terjadi—kecelakaan yang mengubah segalanya. Dan mungkin karena seringnya Erikc tidak ikut liburan, pada saat kecelakaan itu terjadi, mereka lupa bahwa Erikc juga ada di sana. Erikc tersingkir, baik secara fisik maupun emosional, bahkan sejak kecil.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang