42 Wisuda Rangga.

1.7K 83 1
                                        

Hari ini, Opa pulang. Satu keluarga ikut mengantarnya ke bandara. Dengan senyum lembut, ia mengusap bahu ketiga cucunya.

"Sesekali mainlah ke Surabaya. Nanti Opa kasih saham buat kalian," ucapnya santai, seolah saham hanya jajanan anak-anak.

"Iya, Opa. Setelah ujian, Rangga akan mengunjungi Opa," jawab Rangga.

"Henry juga! Setelah musim liga berakhir, Henry bakal main ke rumah Opa. Jangan lupa kasih saham yang banyak, ya!" timpal Henry dengan nada bercanda.

Opa tertawa kecil, lalu menatap Erikc. Erikc terdiam. Tatapan itu terasa familiar—begitu mirip dengan Henry. Definisi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sampai membuat bulu kuduknya merinding.

Erikc melirik Bunda, bingung harus menjawab apa.

"Erikc akan mengunjungi Papih saat adik dan abangnya senggang, biar ke Surabaya sama-sama," ujar Bunda, membantunya menjelaskan.

Opa mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu. Tak lama, ia pun pergi sambil melambaikan tangan. Bunda dan Ayah melambai balik, diikuti ketiga putra mereka.
Diam-diam, Ayah merasa lega. Akhirnya, batu besar yang menghimpit dadanya pergi. Lima hari tinggal serumah dengan mertuanya membuatnya merasa sesak napas. Ditambah lagi, saat Opa mulai mengontrol perusahaan Food and Health, tekanannya semakin bertambah.

Setelah Opa pergi, seluruh keluarga keluar dengan helaan napas lega. Bunda melirik suami dan anak-anaknya. Entah kenapa, melihat mereka begitu lega justru membuatnya sedikit tersinggung.

"Kok helaan napasnya kompak banget? Tertekan ya kalau Opa ada di sini?" tanya Bunda, menyipitkan mata curiga.

"Enggak, Sayang. Kita gak tertekan kok. Justru senang Opa mampir ke rumah. Anak-anak juga jadi dapat amplop," jawab Ayah sambil merangkul bahu istrinya dengan lembut.

Sementara itu, Erikc langsung bergerak menuju mobil. Ia ingin duduk di jok depan—jauh dari Henry. Ia masih ingin menjaga jarak, karena bagi Erikc, Henry masih terasa terlalu menakutkan.

Namun, entah kesialan macam apa lagi yang menimpanya, tiba-tiba ia melihat Ayah menyerahkan kunci mobil pada Henry.

"Dek, kamu aja yang nyetir, ya. Ayah capek. Bang Rangga juga kelihatan kecapekan. Kamu gak apa-apa, kan?"

"Gak apa-apa, Yah," jawab Henry santai.

Erikc refleks ingin beranjak dari kursi depan, tapi tiba-tiba Henry menahan tangannya.

"Mau ke mana lo? Diem."

Erikc tak bisa mengelak. Niat hati ingin menjaga jarak, eh, malah harus duduk berdampingan dengan Henry.

Erikc terus terdiam sepanjang perjalanan. Wajahnya terlihat tegang, dan sorot matanya kosong. Bunda, yang duduk di belakang, memperhatikan ekspresinya dengan cemas.

"Erikc, kamu gak apa-apa, Nak?" tanya Bunda khawatir.

"Gak apa-apa, Bun," jawab Erikc cepat, menoleh ke belakang.

"Tapi wajahmu pucat. Kamu sakit?"

"Enggak, Bun. Lagi capek aja, kayaknya," Erikc berusaha memberi alasan, meski suaranya terdengar kurang meyakinkan.

Melihat Erikc yang berusaha mengelak, Henry terkekeh kecil, menahan tawa.

Sesampainya di rumah, Rangga turun dari mobil dengan langkah lunglai. Ia benar-benar kelelahan. Persiapan final exam sudah cukup membuatnya stres, ditambah dengan beban tugas yang semakin menumpuk.

Tanpa banyak bicara, Rangga langsung masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Erikc, yang langsung naik ke lantai atas. Sementara itu, Henry memilih bersantai di ruang keluarga, menonton TV sambil menggonta-ganti channel.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang