Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Erikc mengajak Hani ke pasar malam. mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Berjalan di keramaian pasar malam, Erikc dan Hani membeli harumanis yang begitu besar.
Hani tertawa melihat bentuk haru manis yang sebesar wajahnya.
"Ini, bisa dimakan berdua." ucap Hani di sela tawanya.
"Kita makan berdua saja," ucap Erikc, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Hani memakan harumanisnya sedikit demi sedikit, tapi tidak dengan Erikc—ia memakannya dalam gigitan besar-besar.
"Dih, pelan-pelan, makanya! Emang nggak linu giginya?" ujar Hani, merasa heran dengan Erikc yang begitu menyukai makanan manis.
"Oh, itu lihat, ada yang jualan sale pisang!" Erikc menunjuk sebuah stan.
"Ke sana yuk," ajaknya sambil menarik tangan Hani.
"Eh, tunggu..." balas Hani.
Hani mengikuti langkah Erikc, dan pemuda itu langsung membeli sale pisang dalam jumlah yang cukup banyak.
Setelah puas berkeliling, Hani meminta untuk naik bianglala. Erikc pun mewujudkan keinginannya. Mereka berdua duduk berhadapan, melihat keluar jendela bianglala sambil menikmati langit malam yang dipenuhi bintang.
Erikc terus memandang wajah manis Hani. Meskipun Hani tidak secantik Lula, ada sesuatu yang menarik darinya, sesuatu yang membuat Erikc tidak pernah bosan memandangnya.
"Hani.." panggil Erikc, sangat lembut.
"Iya," jawab Hani pelan. Setiap kali Erikc memanggil namanya dengan lembut, jantung Hani berdetak lebih keras dari biasanya.
Hani bisa melihat ada sesuatu yang ingin Erikc katakan, seolah-olah ada jeritan yang tertahan di dalam dirinya. Wajahnya mengisyaratkan kesedihan yang begitu dalam, dan Hani bisa merasakannya.
"Lo pengen menceritakan sesuatu? Baiklah, gue akan mendengarnya," ucap Hani dengan senyum tulus di wajahnya.
Erik mengulas senyum pahit. Ada sebuah perasaan yang ia pendam, sesuatu yang ingin ia lepaskan agar bebannya terasa lebih ringan.
"Hani... Henry sakit," ucap Erik dengan bibir bergetar. Kedua matanya memerah, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Dia sakit... karena aku," lanjut Erik. Ia mencoba tersenyum, namun deraian air mata membasahi kedua pipinya.
Hani diam tidak brkomentar apapun, dia terus mendengarkan semua perasaan Erikc malam ini.
"Henry selama ini selalu menyimpan kado yang gue tolak setiap tahunnya. Gue nggak suka karena Bunda dan Ayah terus mengikuti seleranya Henry. Ini bukan salah Henry, tapi gue terus menyakitinya karena gue iri padanya. Gue iri karena dia lebih berbakat daripada gue. Pada dasarnya, Henry nggak salah. Bukan salahnya dia jadi atlet timnas dan dibanggakan oleh orang tua. Dia memang pantas mendapatkan semua itu karena dia bekerja keras."