Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pertandingan final akan segera dimulai. Suasana begitu sibuk; semua orang, mulai dari staf, para pemain tim nasional, hingga pelatih, bekerja keras mempersiapkan segalanya. , kali ini mereka harus memberikan yang terbaik.
Di sudut lain, Henry memilih berdiam diri di ruang atap asrama. Ia sengaja menghindari keramaian, mencoba meredakan pikirannya yang kacau.
Banyak hal membebani pikiran Henry. Tekanan menjelang final ini terasa semakin berat. Kekhawatirannya terhadap performa tim membuat pikirannya terus bergelayut. Ia takut kasus yang baru-baru ini terjadi akan berdampak besar pada semangat dan kinerja tim. Semua ini benar-benar menguras emosinya.
Joko, yang baru saja tiba di atap Asrama sambil menjinjing ember, menghela napas panjang ketika melihat teman sekamarnya sedang melamun di sana. Ia menaruh ember berisi pakaian setengah kering yang baru saja dikeluarkan dari mesin pengering.
"Melamun terus, Hen," ujar Joko sambil memandang Henry yang duduk termenung.
Henry menoleh, memperhatikan Joko yang mulai menjemur pakaian.
"Sedang mikirin apa, sih?" tanya Joko lagi, sembari asal-asalan melampirkan pakaiannya di tali jemuran yang tersedia.
"Kita bakal menang nggak, ya?" Henry akhirnya bersuara, menatap Joko dengan mata sayu yang penuh kekhawatiran.
Joko berhenti sejenak, lalu menjawab dengan nada santai, "Kita pasti bisa menang. Lagipula, kita punya pelatih yang hebat."
Setelah selesai menjemur, Joko mendekati Henry dan merangkul bahunya.
"Jangan terlalu dipikirin. Kalah atau menang itu wajar dalam pertandingan," kata Joko menenangkan.
"Wajar sih, tapi Indonesia kebanyakan kalahnya," Henry membalas dengan nada yang terdengar getir.
Joko terkekeh kecil, lalu berkata dengan nada ironis, "Benar juga."
"Makanya," lanjutnya sambil menepuk bahu Henry, "kita harus berusaha lebih keras. Jangan pikirin hasilnya dulu. Fokus aja pada pertandingan."
Walaupun terlihat tenang, Joko sebenarnya juga menyimpan kegelisahan yang sama di dalam hatinya.
Henry menghela napas panjang. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya melayang entah ke mana. Bayangan para pendukung timnas terus menghantui benaknya. Seolah-olah, mereka memberinya tanggung jawab yang begitu berat untuk dipikul.
****
Erikc berdiri ragu di depan pintu kamar Henry. Ia sebenarnya hanya ingin meminjam jaket milik adiknya, tapi keberaniannya ciut setelah mendapat peringatan tegas kemarin. Henry, kalau sudah marah, memang tidak main-main.
Erikc menarik napas dalam-dalam. Henry selalu terasa seperti teka-teki baginya—sulit ditebak, penuh misteri. Kadang Henry terlihat ceria, dengan senyumnya yang tulus. Di lain waktu, ia bertingkah manis, seperti adik kecil yang butuh perhatian. Tapi di saat-saat tertentu, Henry bisa berubah menjadi sosok yang begitu dingin, sulit didekati.