65.Gak apa-apa Hani

1.7K 92 7
                                        

Erikc tersenyum saat melihat Hani datang menjenguk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Erikc tersenyum saat melihat Hani datang menjenguk. Gadis itu membawa sebuket bunga dan sebuah bingkisan berisi roti serta selai cokelat Nutella.

Bunda menyambut Hani dengan hangat, memeluknya erat.

"Makasih, Sayang, sudah menjenguk Erikc lagi," ucap Bunda dengan lembut.

"Iya, sama-sama, Bunda. Maaf, Hani cuma bisa bawa ini," ujar Hani sedikit merasa tak enak.

Bunda tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Kamu datang saja sudah cukup buat Erikc, iya kan?" Ia melirik jail ke arah putranya.

Erikc hanya tersenyum kecil. Sementara itu, Bunda menerima buket bunga dari Hani dan segera menaruhnya di dalam vas agar tetap segar.

"Aku bawakan roti tawar dan Nutella. Kau suka, kan?" tanya Hani pelan.

Erikc mengangguk tanpa ragu.

Bunda tersenyum melihat keduanya. "Kalian ngobrol dulu saja, ya. Bunda sama Henry keluar sebentar."

Tak ingin mengganggu momen putranya dengan sang pacar, Bunda menarik lengan Henry, membawanya keluar dari ruang rawat.

Di lorong rumah sakit, Henry menghentikan langkahnya dan melepaskan tarikan tangan Bunda.

"Kenapa kita harus keluar sih, Bun?" tanyanya dengan wajah penuh tanya.

Bunda menatap putra bungsunya itu dengan lembut. "Bunda ingin memberi mereka kesempatan berdua saja."

Henry mendengus. "Kesempatan buat apa? Bikin bayi?" tanyanya asal.

"Astagfirullah, Henry! Kok pemikiranmu sampai ke sana?" Bunda terkejut mendengar ucapan putranya.

"Ya, lagian Bunda aneh. Malah membiarkan Hani dan Erikc berduaan di ruangan tanpa ada mahramnya," balas Henry santai.

Bunda berdecak, bertolak pinggang. "Mungkin ini terdengar kasar, tapi menurutmu, apa Erikc mampu melakukan hal seperti itu?"

Henry langsung tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya begitu lepas, sampai ia sedikit membungkuk menahan perut.

Bunda memperhatikannya dengan perasaan campur aduk. Sejujurnya, ia masih belum terbiasa melihat Henry begitu terbuka. Selama ini, putra bungsunya selalu menjaga sikap di depannya. Apa ini berarti Henry benar-benar sudah melepas topengnya?

"Benar juga ya, Bun. Gak mungkin. Menurut sains juga gak masuk akal," ujar Henry, lalu mengubah topik dengan cepat. "Ya udah, kita makan aja, Bun. Henry lapar!"

Bunda terdiam sejenak, memperhatikan perubahan sikap putranya. Barusan dia serius, sekarang tiba-tiba ceria lagi. Entah kenapa, Bunda jadi semakin sulit percaya dengan Henry.

"Hmm... Kenapa bengong? Bunda gak lapar?" Henry menatapnya heran. "Yuk, kita ke restoran pasta!"

Bunda hanya menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangguk. "Ayo."

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang