Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, Erikc membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang Henry yang sudah kosong. Tempat tidur itu terlihat sangat rapi, selimutnya pun sudah dilipat dengan sempurna. Erikc bangkit dari tempat tidur dan melihat ke arah sudut kamar. Ternyata, Henry sedang melaksanakan salat Subuh. Dengan samar, Erikc mendengar suara dzikir yang terucap lembut dari mulut adiknya.
Saat selesai, Henry menoleh ke arah Erikc dan tersenyum. Namun, senyum itu membuat Erikc merasa tidak nyaman. Rasa takut menyelinap di hatinya, mengingat bagaimana Henry memarahinya dengan keras semalam. Erikc tidak tahu apa arti senyum itu—apakah sebuah ajakan, sindiran, atau peringatan yang tersembunyi.
"Bangun, salat. sebelum saya salatkan," kata Henry dengan nada lembut, namun ada kesan sarkas di balik ucapannya.
Erikc terkesiap. "Astaghfirullah," gumamnya dalam hati. Meski terdengar tenang, kalimat Henry seperti menusuk perasaannya.
Segera, Erikc turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Namun, hatinya tetap terasa kacau, seperti ada yang mengganjal.
Erikc menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri yang masih terasa tidak karuan. Ketika keluar dari kamar mandi, ia melihat Henry sudah tidak ada. Sajadah dan sarung yang tadi dikenakan Henry sudah terlipat rapi di sudut kamar. Erikc buru-buru melaksanakan salat Subuh, lalu keluar dari kamar.
Begitu keluar, suara aktivitas di dapur langsung terdengar. Erikc tahu pasti itu Bunda yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Bunda," panggil Erikc pelan.
"Eh, Erikc, sudah bangun. Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Bunda sambil tersenyum.
"Oh, duduk dulu, ya. Bunda lagi bikin bubur ayam."
"Bunda, Henry ke mana?" tanya Erikc sambil duduk di meja makan.
"Biasa, lari pagi," jawab Bunda singkat.
Erikc hanya mengangguk, meski dalam hati ia merasa sedikit iri dengan rutinitas Henry yang tampak disiplin.
Tak lama kemudian, Rangga keluar dari kamarnya sambil menguap lebar. Ia meregangkan tangan dan lehernya, tampak masih setengah mengantuk.
"Selamat pagi, Bunda," sapa Rangga dengan suara serak.
"Pagi, Abang," jawab Bunda ceria.
"Pagi semua," suara berat Ayah terdengar dari arah kamarnya. Ayah keluar, langsung duduk di meja makan sambil menunggu sarapan.
Pukul tujuh pagi, sarapan pun siap. Bubur ayam tersaji di atas meja, dan pada saat yang bersamaan, Henry kembali dari lari pagi. Wajahnya penuh keringat, tapi ia tampak segar. Tanpa berkata apa-apa, Henry langsung meneguk segelas air putih.