Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yuga berdiri di tengah gudang yang luas dan sunyi, matanya menyapu tumpukan uang, emas batangan, dan dokumen yang tersusun rapi di ruang bawah tanah yang tersembunyi. Harta peninggalan ayahnya masih utuh, tersembunyi dari mata dunia.
"Orang gila..." gumamnya sinis. "Sudah berapa banyak yang dia curi dari negaranya sendiri?"
Dia mendengus, bukan karena marah, tapi lebih ke arah rasa muak yang mendalam. Namun, alih-alih menghancurkannya atau melaporkannya, sebuah ide gila muncul di kepalanya.
Yuga mulai bekerja. Dia mengumpulkan semua harta itu, mengatur ulang, memastikan setiap barang berada di tempat yang tepat sesuai rencananya. Tangan dan pikirannya bekerja selaras, seolah ini adalah proyek terakhir yang akan dia lakukan dalam hidupnya.
Setelah selesai, dia naik kembali ke atas, menarik napas panjang sambil mengeluarkan ponselnya. Jarinya dengan tenang membuka kalender dan melihat tanggal yang sudah ia tandai sebelumnya—22 September.
"Ulang tahunmu kali ini akan sangat spesial, Erikc," bisiknya pelan, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum miring.
Tangan Yuga mengepal di sisinya. "Rencana gue harus berhasil. Sebelum mati, gue harus lihat Henry menangis darah. Lihat saja nanti."
Tatapannya kosong, tapi ada kilatan kegilaan di dalamnya. Ia sudah tidak sabar menanti hari itu tiba.
***
Pukul tujuh malam, acara ulang tahun si kembar hampir dimulai. Bunda dan Bik Sum sibuk menata hidangan di meja makan,
memastikan semuanya tersaji dengan rapi. Sementara itu, Erikc muncul dengan membawa beberapa topi kerucut berkarakter kartun yang terlihat lucu.
Henry yang baru saja melihatnya langsung mengernyit. "Dasar bocil! Ngapain sih pakai gituan? Umur kita udah 18 tahun!" protesnya. Baginya, topi itu terlalu kekanak-kanakan.
Erikc hanya tersenyum kecil. "Dari kecil aku pengin ulang tahun yang kayak gini—dirayain di rumah. Tapi Bunda dan Ayah selalu milih ngerayain di luar."
Ayah yang baru saja bergabung mendengar perkataan Erikc dan menatapnya. "Kenapa gak bilang kalau pengen dirayain di rumah?" tanyanya seraya mengambil salah satu topi kerucut dan memakainya. Ukurannya agak kekecilan di kepala Ayah, tapi ia tetap membiarkannya.
Erikc menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada sedikit pelan, "Karena Ayah gak pernah kasih aku kesempatan buat ngomong."
Ayah terdiam. Tatapannya beralih ke Erikc yang kini sedang memasang topi kerucut di kepalanya sendiri.
"Benarkah begitu, Sayang?" Ayah mengerutkan kening, seolah tak merasa pernah seperti itu di masa lalu.
Hani dan Azka akhirnya tiba, membawa kado untuk kedua saudara kembar itu.